Rabu 21 Feb 2024 17:01 WIB

MER-C: Israel Kembali Duduki Rumah Sakit Al Nasser di Gaza

Israel menuduh RS Al Nasser sebagai tempat penyimpanan senjata.

Rep: Muhyiddin/ Red: Ani Nursalikah
Seorang pria bereaksi saat membawa seorang gadis yang terluka ke Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis, Jalur Gaza selatan, 6 Januari 2024, setelah serangan udara Israel di Gaza selatan.
Foto: EPA-EFE/HAITHAM IMAD
Seorang pria bereaksi saat membawa seorang gadis yang terluka ke Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis, Jalur Gaza selatan, 6 Januari 2024, setelah serangan udara Israel di Gaza selatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Sarbini Abdul melaporkan informasi terbaru terkait perang di Gaza yang sudah berlangsung selama 138 hari. Menurut dia, baru-baru ini sebuah rumah sakit terbesar di Gaza Selatan kembali diduduki oleh Israel, yakni Rumah Sakit Al Nasser.

Menurut dia, rumah sakit ini menampung pasien-pasien dari Gaza Utara dan Gaza Tengah sehingga menjadi andalan.  

Baca Juga

"Tiga hari yang lalu rumah sakit Al Nasser diduduki Israel, rumah sakkt andalan di Gaza Selatan telah diduduki Israel. Dan rumah sakit ini mendapatkan stigma sama persis yang dilakukan Israel terhadap Rumah Sakit Indonesia," ujar Sarbini saat konferensi pers terkait runtuhnya sistem kesehatan Gaza di Kantor Pusat MER-C, Jakarta Pusat, Rabu (21/2/2024).

Seperti halnya stigma yang disematkan terhadap RS Indonesia, menurut dia, RS Al Nasser juga dituduh oleh Israel sebagai tempat penyimpanan senjata dan para medisnya dituduh sebagai orang-orang Hamas.

"Rumah sakit andalan itu sekarang kolaps dan jadi markas IDF. Bagi kita ini sangat memprihatinkan, dan bagi Palestina ini sangat mengganggu dan sangat menghancurkan kemanusiaan yang ada di Gaza," ucap Sarbini.

Dia menjelaskan fasilitas kesehatan yang ada di Gaza sendiri saat ini tinggal 10 persen. Di Gaza Selatan sendiri tinggal satu sampai tiga rumah sakit saja. Dengan sedikitnya rumah sakit dan dengan operasional ala kadarnya, maka akan menjadi suatu ledakan kemanusiaan kalau tidak segera diatasi, terutama oleh organisasi kesehatan dunia (WHO).

WHO diharapkan bersikap tegas...

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement