Jumat 15 Dec 2023 17:29 WIB

Rumah Wakaf dan Yayasan Bahagia Bantu 25 Anak Berkebutuhan Khusus untuk Dikhitan

Khitanan Massal ini merupakan bagian dari Perayaan Hari Disabilitas Internasional

Rumah Wakaf bekerja sama dengan Yayasan Bahagia Bantu Sesama, mendukung terlaksananya khitanan masal untuk 25 orang anak berkebutuhan khusus pada hari Ahad, (10/12/2023) di Aula Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Bandung.
Foto: dok Rumah Wakaf
Rumah Wakaf bekerja sama dengan Yayasan Bahagia Bantu Sesama, mendukung terlaksananya khitanan masal untuk 25 orang anak berkebutuhan khusus pada hari Ahad, (10/12/2023) di Aula Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Bandung.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hak kesehatan anak berkebutuhan khusus adalah bagian integral dari hak asasi setiap anak. Anak-anak berkebutuhan khusus termasuk mereka yang memiliki disabilitas fisik, mental, atau sensorik mempunyai hak kesehatan yang sama. Salah satu hak kesehatan anak berkebutuhan khusus yang beragama Islam adalah khitan.

Khitan (sunat) adalah salah satu sunnah fitrah yang muakkadah (sangat dianjurkan), sebagian ulama berpendapat hukumnya adalah wajib. Khitan memiliki manfaat bagi kesehatan karena membuang anggota tubuh yang menjadi tempat persembunyian kotoran, virus, dan bakteri. 

Hasil penelitian menunjukkan khitan dapat mengurangi risiko terkena infeksi HIV sebesar 60 persen, Herpes sebesar 28 persen, dan HPV (Human Pappiloma Virus) sebesar 35 persen.

Rumah Wakaf bekerja sama dengan Yayasan Bahagia Bantu Sesama, mendukung terlaksananya khitanan masal untuk 25 orang anak berkebutuhan khusus pada hari Ahad, (10/12/2023) di Aula Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Bandung. Khitanan Massal ini merupakan bagian dari perayaan Hari Disabilitas Internasional yang digagas oleh Yayasan Bumi Difabel Istimewa (Budi), yang selama ini aktif membina serta memberikan bantuan bagi anak-anak difabel di area Bandung dan sekitarnya. 

Salah satu peserta khitanan massal ini adalah Emir Rafa Abdillah, 9 tahun, yang terindikasi Cerebral Palsy (CP) pada usia 2 tahun. “Emir juga mengalami gangguan pendengaran atau tuli. Dulu Emir sempat mengalami demam tinggi dan kejang-kejang,” ujar ibunda Emir, Mayasari Febrianti. 

“Kegiatan ini sangat membantu, karena kami yakin bahwa akan ada tenaga medis yang bisa memenuhi kebutuhan putra kami. Terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan,” kata Mayasari.

“Yayasan Bahagia Bantu Sesama (BBS) memiliki salah satu fokus program Bantu Langkah Sesama untuk membantu para penyandang difabel serta anak-anak berkebutuhan khusus. Alhamdulillah bertepatan dengan Hari Disabilitas Internasional, kami bisa berkolaborasi dengan Rumah Wakaf dan Yayasan Budi untuk merealisasikan khitanan massal ini,” kata Direktur Yayasan BBS, Yesi Mariska.

"Rumah Wakaf menghimpun Infak Difabel Istimewa, sebagai upaya untuk bisa memberikan bantuan terbaik bagi komunitas difabel. Salah satu realisasi programnya adalah khitanan massal anak-anak difabel ini,” jelas Program Manager Rumah Wakaf, Munawir Muhammad Zam. 

"Terima kasih atas bantuan moril, materil, support, motivasi, dan semuanya dari Rumah Wakaf dan Bahagia Bantu Sesama. Terima kasih banyak pokoknya,” ucap Ketua Yayasan Budi, Sri Kumala Dewi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement