Jumat 17 Nov 2023 08:56 WIB

Khutbah Jumat: Santri Merawat dan Memperkokoh Nilai-Nilai Perjuangan

Khutbah Jumat kali ini mengangkat tema perjuangan.

Rep: Andrian Saputra/ Red: Erdy Nasrul
Ilustrasi khotbah jumat.
Foto: Tahta Aidilla/Republika
Ilustrasi khotbah jumat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berikut ini adalah naskah khotbah Jumat tentang keharusan berjuang menegakkan nilai keislaman dan kebangsaan.

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَلِيِّ الصَّالِحِينَ الْمُؤْمِنِينَ هُوَ هَادِي الْمُتَفَقِّهِينَ فِي الدِّينِ وَهُوَ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ الْمُجَاهِدِينَ الصَّابِرِينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْعِزَّةَ لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ ،وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ (المنافقون:  ٨) 

Baca Juga

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، الرَّحْمَةُ الْمُهْدَاةُ ، وَالنِّعْمَةُ الْمُسَدَّاةُ ، وَالسِّرَاجُ الْمُنِيرُ. . اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ . أَمَّا بَعْدُ.

يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامِنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ( آل عمران : ١٠٢) ويقول عز من قائل : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا )النساء : ١) 

 

يَقُولُ الْمَوْلَى جَلَّ فِي عِلَاهُ : وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ( آل عمران : ١٠٣).

Jamaah sholat Jumat yang dirahmati Allah SWT

Kita bersyukur kepada Allah, karena dengan nikmat iman dan tauhid maka Allah SWT memberikan karunia ketakwaan dengan berbagai wasilahnya yang penuh keberkahan. 

Karena kita sebagai kaum beriman dan bertauhid sangat mensyukuri nikmatnya dipertemukan di hari yang penuh berkah ini, dalam rangka mengisi relung hati kita dengan kedalaman takwa, melalui ilmu yang bertambah dan amal yang meningkat. Inilah ilmu yang meninggikan derajat pemiliknya dengan keindahan hakiki iman dan tauhid. 

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Artinya: Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(Alquran surat Ali Imran ayat 18).

Sesungguhnya menjadi jelas bahwa orang yang berilmu menjadi istimewa karena kesadaran dan kesaksiannya terhadap kebenaran tauhid, kebenaran kuasa Allah SWT yang diagung-agungkan oleh para malaikat, kebenaran kuasa Allah SWT sebagai Rabb yang mewujudkan keadilan bagi alam dan segenap makhlukNya. Bahkan para malaikat dan mereka yang berilmu digambarkan dalam ayat ini bagaikan satu entitas kebaikan, satu kesatuan ketaatan. Inilah kedudukan mulia yang Allah SWT tetapkan bagi mereka yang berilmu. 

Pada sisi lain perlu kita ketahui dan sadari bahwa sebagaimana Allah SWT selalu memberikan keutamaan di atas keutamaan, sebagaimana mulianya hari Jumat pada setiap pekan, bulan Ramadhan di atas seluruh bulan, maka terdapat keutamaan istimewa yang hanya diberikan Allah SWT kepada mereka yang mendalami ilmu agama di atas ilmu-ilmu lainnya. Marilah kita sama-sama menyimak firman Allah SWT dalam surat at Taubah:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Artinya: Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (At Taubah ayat 122).

Mengapa dalam konteks ini Allah SWT memerintahkan adanya sebagian orang yang memperdalam agama, sedangkan masyarakat lainnya pergi berjuang fi Sabilillah?

Ibnu Katsir dalam tafsirnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa maksud dari ayat ini ialah supaya mereka tidak ikut berjuang dalam memiliki fokus untuk memperdalam ayat-ayat Alquran yang baru turun, atau pun ilmu-ilmu keagamaan lainnya yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Yang demikian itu supaya para masyarakat lainnya yang pulang setelah berjuang dapat belajar dari mereka yang mempelajari ilmu-ilmu baru tersebut lebih dulu bersama nabi. 

Inilah misi tafaquh fid diin. Misi memperdalam ilmu agama. Sebuah misi yang menjadi bagian penting dari kehidupan umat Islam sejak masa Rasulullah SAW hingga zaman kita pada hari ini. Sejatinya misi tafaquh fid diin sangatlah bertautan erat dengan misi dakwah menyebarkan ajaran Islam, sebagaimana kita ketahui bersama dari kandungan ayat tadi. 

Sehingga dari mekanisme tafaquh fid diin dan dakwah inilah kita dapat menemukan sebuah rangkaian keilmuan yang kokoh dan tersebar melintasi Sekar generasi dan sekat geografis. Dimulai dari Rasulullah SAW kepada para sahabat beliau kemudian berlanjut kepada para tabiin dan tabiut tabiin terus berkembang hingga kepada para empat imam Mazhab, Imam abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy Syafi'i dan Imam Ahmad. Bahkan sampai ke bumi nusantara melalui perjuangan wali songo yang mulia. Rangkaian atau sanad penuh keberkahan ini tiada lain menjadi cikal bakal lahirnya entitas pesantren dan santri yang memiliki peranan mensejarah di bumi nusantara yang kita cintai ini. 

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT

Sejak kehadirannya, kelompok pesantren dan santri mendedikasikan pengabdiannya kepada masyarakat pedesaan secara sederhana. Pengabdian tersebut diwujudkan dalam bentuk pelayanan yang bersifat keagamaan kepada masyarakat. Kehadiran santri pada awalnya memang sebagai pelajar dan penyiar agama Islam. Namun lebih jauh dari itu, kelompok santri berikhtiar meletakan visi dan kiprahnya dalam kerangka pengabdian sosial, yang pada mulanya ditekankan kepada pembentukan moral keagamaan. Pada perkembangannya peran santri dikembangkan kepada upaya pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Dalam konteks seperti ini, para santri pada dasarnya merupakan pendidik yang sarat dengan nuansa reformasi sosial. Hal ini tidaklah aneh, karena para santri tentunya memahami sabda nabi Muhammad SAW. 

وإن فضل العالم على العابد كفضل القمر ليلة البدر على سائر الكواكب 

Artinya: keutamaan ahli ilmu dibanding ahli ibadah sama seperti keutamaan bulan pada malam purnama dibanding bintang-bintang lainnya (HR. Abu Daud 3641).

Para santri tentunya mempelajari penjelasan para ulama mengenai hadits tersebut, bahwasanya keutamaan ahli ilmu di atas ahli ibadah disebabkan ahli ibadah belum tentu kebaikannya dapat bermanfaat bagi orang lain. Maka sudah jelas bahwa keutamaan ahli ilmu ialah terletak pada kontribusinya dan kebermanfaatannya bagi sesama umat manusia. 

Dari sinilah kaum santri menyandarkan dan membangunkan masyarakat akan kondisi kolonialisme oleh para penjajah, agar masyarakat bangun dan bangkit melawan para penjajah merebut kemerdekaannya. 

Dalam menjaga dan mempertahankan kemerdekaan pada santri tetap berperan aktif, melalui pendidikan, dakwah dan pelayanan sosial. Mereka mengajarkan kita tentang pentingnya persatuan, toleransi, dan kebersamaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai penutup, kita semua baik dari kalangan santri ataupun bukan, tetaplah dapat menghadirkan nilai-nilai positif yang diteladankan dan dibaktikan oleh kalangan ulama dan santri di Indonesia, sebagai kebanggaan umat Islam dan bangsa Indonesia. 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah Kedua

 

Lihat halaman berikutnya >>>

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement