Kamis 26 Oct 2023 16:09 WIB

Putin: Situasi di Gaza Bencana Kemanusiaan

Menurut Putin, apa yang terjadi di Palestina meningkatkan ketidakstabilan di dunia.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan pidato pada Forum Belt and Road di Aula Besar Rakyat di Beijing, Rabu, 18 Oktober 2023.
Foto: AP Photo/Andrei Gordeyev
Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan pidato pada Forum Belt and Road di Aula Besar Rakyat di Beijing, Rabu, 18 Oktober 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Presiden Rusia Vladimir Putin pada Rabu (25/10/2023) mengatakan situasi di Jalur Gaza adalah bencana kemanusiaan. "Orang-orang tidak bersalah tidak seharusnya menanggung kejahatan yang dilakukan oleh yang lain," kata Putin saat bertemu para tokoh lintas agama di Moskow, Kamis (26/10/2023).

Putin menentang apa yang disebutnya tanggung jawab kolektif untuk kesalahan yang dibuat segelintir orang, seraya menunjuk lansia, perempuan dan anak-anak yang menjadi korban serangan Israel.

Baca Juga

Putin menegaskan kembali dukungan Rusia kepada solusi dua negara yang disebutnya kunci bagi penyelesaian dan perdamaian jangka panjang dan mendasar di Timur Tengah. "Yang terpenting adalah menghentikan pertumpahan darah dan aksi kekerasan," kata dia, seraya mengingatkan konflik ini bisa meluber ke luar Timur Tengah.

Putin menuding kekuatan tertentu tengah mempermainkan sentimen agama dan nasionalisme agar menciptakan ketidakstabilan dan kekacauan demi kepentingan jahat mereka.

 

"Muslim dihasut untuk melawan Yahudi. Syiah dihasut untuk melawan Sunni, Ortodoks dihasut untuk melawan Katolik. Di Eropa, mereka menutup mata dari penistaan dan vandalisme terhadap hal-hal yang dianggap suci bagi Muslim. Di sejumlah negara, para kriminal Nazi terang-terangan diagungkan di forum resmi," kata Putin.

Dia melihat Ukraina saat ini berusaha melarang Gereja Ortodoks kanonik dan memperdalam perpecahan di kalangan umat Kristen.

"Menurut saya, tujuan dari semua aksi ini sudah jelas, yakni meningkatkan ketidakstabilan di dunia, memecah belah budaya, masyarakat, agama di dunia, guna memicu konflik peradaban yang semuanya berdasarkan prinsip 'devide et impera' yang terkenal itu," katanya.

"Ada bahasan soal 'tatanan dunia baru', yang esensi sebenarnya adalah sama, yakni hipokrasi, standar ganda, klaim eksklusivitas, untuk mendominasi global dan melestarikan sistem yang pada dasarnya neokolonial," kata Putin.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement