Selasa 03 Oct 2023 07:43 WIB

Federasi Olahraga: Larangan Jilbab Atlet Prancis Bertentangan dengan Semangat Olimpiade

Larangan Prancis dapat mencegah beberapa atlet Muslim Prancis berkompetisi.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Ani Nursalikah
Walikota Marseille Benoit Payan, tengah, mengibarkan bendera Olimpiade bersama Ketua Olimpiade Paris 2024 Tony Estanguet, kanan tengah, usai konferensi pers di Balai Kota Marseille, Prancis selatan, Jumat, 3 Februari 2023. Alih-alih tiba lewat darat, api simbolis yang turun pada Olimpiade Paris 2024 akan dibawa ke laut dari tempat kelahirannya di Yunani, tiba dengan kapal tinggi bertiang tiga di pelabuhan Prancis di Marseille.
Foto: AP Photo/Thibault Camus
Walikota Marseille Benoit Payan, tengah, mengibarkan bendera Olimpiade bersama Ketua Olimpiade Paris 2024 Tony Estanguet, kanan tengah, usai konferensi pers di Balai Kota Marseille, Prancis selatan, Jumat, 3 Februari 2023. Alih-alih tiba lewat darat, api simbolis yang turun pada Olimpiade Paris 2024 akan dibawa ke laut dari tempat kelahirannya di Yunani, tiba dengan kapal tinggi bertiang tiga di pelabuhan Prancis di Marseille.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Sekelompok federasi olahraga dari negara-negara mayoritas Muslim mengeluarkan pendapatnya atas larangan jilbab bagi atlet Olimpiade Prancis. Mereka menyebut kebijakan tersebut seolah mengirimkan pesan pengecualian.

Federasi Olahraga Solidaritas Islam (ISSF) menyuarakan keprihatinan mendalam atas keputusan Prancis. Federasi yang beranggotakan 57 orang dan berbasis di Riyadh, Arab Saudi menyebut kebijakan ini sejalan dengan aturan ketat negara tersebut mengenai sekularisme.

Baca Juga

Untuk diketahui, bulan lalu Menteri Olahraga Prancis Amelie Oudea-Castera mengatakan pemerintah Prancis menentang tampilan simbol agama apa pun selama acara olahraga.

"Maksudnya itu apa? Itu berarti larangan terhadap segala jenis dakwah. Artinya netralitas mutlak dalam pelayanan publik. Tim Prancis tidak akan mengenakan jilbab,” kata dia kepada televisi France 3, dikutip di Times of Israel, Selasa (3/10/2023).

Dalam sebuah pernyataan, ISSF mengatakan jilbab adalah sebuah aspek dari identitas banyak perempuan Muslim yang harus dihormati. Mereka juga menambahkan larangan Prancis dapat mencegah beberapa atlet Muslim Prancis berkompetisi.

“Olimpiade secara historis merayakan keberagaman, persatuan dan keunggulan atletik,” kata pernyataan itu.

Tidak hanya itu, mereka menyebut dengan Prancis menerapkan larangan hijab bagi atletnya, tuan rumah akan mengirimkan pesan eksklusi, intoleransi dan diskriminasi. Ini bertentangan dengan semangat Olimpiade.

Dalam pernyataan tersebut, ISSF lantas mendesak pihak berwenang Perancis mempertimbangkan kembali larangan ini. Mereka menyerukan agar otoritas terkait menjalin keterlibatan yang berarti, dengan komunitas olahraga Muslim di Prancis.

ISSF didirikan pada 1985 untuk melayani anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang berbasis di kota Jeddah. Mereka menjadi payung bagi semua aspek kegiatan olahraga.

Setidaknya, mereka telah menyelenggarakan lima edisi Permainan Solidaritas Islam, yang terakhir berlangsung tahun lalu di Turki. Kantor hak asasi manusia PBB belum membahas secara langsung larangan hijab bagi para atlet di Prancis. Namun seorang juru bicaranya pekan lalu mengatakan, “Tidak seorang pun boleh memaksakan pada seorang perempuan, apa yang boleh atau tidak boleh ia kenakan.”

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement