Sabtu 09 Sep 2023 14:15 WIB

Kaisar Mughal Dituduh Tindas Umat Hindu di India, Benarkah Demikian? Fakta Ini Menjawabnya

Upaya pengaburan sejarah dilakukan terhadap kaisar

Rep: Muhyiddin / Red: Nashih Nashrullah
 Peziarah Hindu berkumpul selama pameran tahunan Gangasagar Mela di Pulau Sagar, India 13 Januari 2023. Umat berkumpul di Pulau Sagar untuk berenang suci di perairan suci Sungai Gangga sebelum menyatu dengan Teluk Benggala, di Benggala Barat, 130km selatan di Kolkata.
Foto: EPA-EFE/PIYAL ADHIKARY
Peziarah Hindu berkumpul selama pameran tahunan Gangasagar Mela di Pulau Sagar, India 13 Januari 2023. Umat berkumpul di Pulau Sagar untuk berenang suci di perairan suci Sungai Gangga sebelum menyatu dengan Teluk Benggala, di Benggala Barat, 130km selatan di Kolkata.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kaisar Mughal, Aurangzeb adalah tokoh paling kontroversial dalam sejarah India. Ada upaya bersama untuk menggambarkannya sebagai seorang yang tidak toleran, ekstremis, dan anti-Hindu. 

Bahkan, ada yang berupaya menggambarkan penguasa muslim itu telah menindas umat Hindu dan menghancurkan kuil-kuil.

Baca Juga

Dengan adanya penggambaran seperti itu, Aurangzeb pun dituduh sebagai sosok utama kambing hitam dalam sentimen agama yang terjadi di India saat ini. Namun, benarkah pengausa Muslim itu menindas umar Hindu di India?

Aurangzeb adalah penguasa Muslim terkenal yang lahir dengan nama Muhiuddin Muhammad pada 1618 M. 

 

Sejak muda, anak keenam Mumtaz Mahal ini dikenal sebagai figur yang pantang menyerah. Gelarnya dari sang ayah adalah Bahadur yang berarti “pemberani”.

Prof Ram Puniyani telah melakukan penelitian ekstensif tentang sejarah India. Dia diundang lembaga-lembaga terkenal untuk membahas isu-isu yang relevan dengan India dan masyarakat India. Dia dianggap tidak memihak, cerdas, dan analitis.

Kemampuan Prof Puniyani melihat fakta sejarah dengan rasionalisme dan kebijaksanaan menjadikannya paling dicintai dan dihormati di antara semua orang yang berpikiran terbuka, yang ingin melihat India berada di jalur pertumbuhan dan kemajuan. Kemampuannya mengeluarkan fakta dari sekumpulan mitos membuatnya menonjol.

Dalam sebuah wawancara dengan saluran Hindi, Prof Ram Puniyani membantah distorsi sejarah bahwa Aurangzeb menganiaya atau menindas umat Hindu dan menghancurkan kuil-kuil mereka.

Prof Puniyani mengatakan, Aurangzeb adalah yang paling kontroversial di antara para penguasa Mughal meskipun karena kecerdasan dan kecerdikan politiknya dia memperluas kerajaan anak benua India dari Afghanistan ke Bengal dan dari Kashmir ke Deccan.

Menurut dia, Aurangseb lah yang benar-benar menjadikan India sebagai 'Akhand Bharat' yang meliputi Afghanistan, Bangladesh, India, dan Pakistan pada masa pemerintahannya.

“Tidak ada kaisar yang pernah memerintah kerajaan sebesar itu dalam sejarah India sebelum atau sesudahnya. Pada masa pemerintahannya, PDB India merupakan seperempat dari total PDB dunia. Bahkan PDB kolektif Eropa Barat lebih kecil dibandingkan PDB India saat itu,” kata Prof Puniyani dikutip dari laman siasat, Kamis (7/9/2023).

Terlepas dari pencapaian besar dan kekuasaannya atas kerajaan yang begitu luas, kaisar Mughal ini dikelilingi kontroversi bahwa dia membunuh umat Hindu, memaksa mereka masuk Islam, dan menghancurkan kuil-kuil mereka.

Namun, menurut Prof Puniyani, Kaisar Aurangzeb adalah seorang Muslim yang taat menjalankan agamanya dan jelas berada di bawah pengaruh ulama. 

Menurut beberapa sejarawan, dia menjalani kehidupan yang sangat sederhana dan jarang menggunakan kas negara untuk keperluan pribadinya. Dia biasa menenun topi dan membuat kaligrafi Alquran untuk mencari nafkah.

Mengenai penerapan Jizyah (pajak dari non-Muslim) pada umat Hindu, Prof Puniyani mengatakan, Aurangzeb tidak memberlakukan Jizyah selama 20 tahun pertama pemerintahannya. 

Baca juga: Bagaimana Laut Merah Bisa Terbelah oleh Tongkat Nabi Musa? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Namun, setelah dua puluh tahun, Aurangzeb membutuhkan uang untuk menaklukkan Golconda, sebuah benteng yang tak tertembus,  tempat kedudukan penguasa Qutub Shahi.

Jumlah Jizyah pun hanya 1,25 persen per tahun yang tidak termasuk orang miskin, perempuan, laki-laki tua, dan anak-anak. Sedangkan besaran Zakat (pajak tahunan umat Islam) sebesar 2,5 persen per tahun.

Terkait tuduhan bahwa Jizyah dikenakan pada umat Hindu untuk memaksa mereka pindah agama, Prof Paniyani menunjukkan bahwa dengan jumlah yang tidak seberapa yaitu 1,25 persen per tahun, tidak ada seorang pun yang akan berpindah agama.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement