Sabtu 05 Aug 2023 16:34 WIB

Reaksi NU Jatim dan Ketua MUI Sikapi Dugaan Rocky Gerung Hina Presiden Jokowi

PWNU Jatim ajak masyarakat fokus pada persoalan bangsa yang lebih besar

Rep: Muhyiddin, Fergi Nadira / Red: Nashih Nashrullah
PWNU Jatim ajak masyarakat fokus pada persoalan bangsa yang lebih besar.
Foto: Republika/Yogi Ardhi
PWNU Jatim ajak masyarakat fokus pada persoalan bangsa yang lebih besar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Abdussalam Shohib atau yang biasa dipanggil Gus Salam mengajak kepada masyarakat untuk belajar dari Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur dalam menyikapi kasus duggan hinaan Rocky Gerung terhadap presiden.

Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar ini mengatakan, Rocky Gerung seharusnya tak perlu dilaporkan ke polisi. Karena, menurut Gus Salam, pernyataan Rocky soal kritik terhadap presiden tidak akan menjatuhkan marwah Joko Widodo (Jokowi) sebagai individu maupun kepala negara.

Baca Juga

“Mari kita belajar dari Gus Dur yang terbiasa merayakan perbedaan pendapat, kritik bahkan hinaan dengan tetap tenang tanpa sedikitpun niatan untuk melaporkan pihak-pihak yang berbeda dengan beliau,” ujar Gus Salam dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Sabtu (6/8/2023).

Dia pun mengimbau kepada masyarakat untuk tidak ambil pusing soal dugaan hinaan Rocky Gerung terhadap Presiden Jokowi.

 

“Semua menyadari statement Rocky Gerung sangat tidak beradab, namun sebaiknya penyelenggara negara fokus menangani kasus-kasus hukum yang besar lebih dulu. Misalnya kasus korupsi yang telah menyandera Indonesia, kemiskinan dan ketidakadilan yang menghambat proses kemajuan bangsa,” kata dia.

Sementara itu, di tempat terpisah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis menjelaskan, dalam Alquran sudah diterangkan bahwa tidak oleh mengolok-olok atau menghina. 

Baca juga: Buntut Hina Jokowi, Rocky Gerung Digugat tak Boleh Jadi Pembicara Seumur Hidup

"Alquran sudah melarang dalam surat Al Hujarat ayat 11, boleh suatu kaum menghina, merendahkan yang lain, mengolok-olok yang lain. Itu sudah jelas, apalagi mengolok-olok kepada kepala negara," ujar Kiai Cholil saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (4/8/2023).

Jika pun mau mengkririk kepala negara, menurut Kiai Cholil, hendaknya umat Islam menyampaikannya dengan cara yang santun, kemudian menyampaikan nasihat yang baik. 

"Kalau toh mau menyampaikan kritik itu juga dengan santun, bil hikmah tentu ya. Kalau mau ngasih nasihat mauidhatul hasanah. Jadi tidak hanya mauidah saja, tapi nasihat yang baik," ucap Kiai Cholil. 

Alumni Pondok Pesantren Sidogiri ini mengatakan... 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement