Kamis 27 Jul 2023 19:38 WIB

Dukung OKI Bahas Pembakaran dan Penistaan Alquran, Iran Sampaikan Terima Kasih 

Pembakaran Alquran menjadi perhatian serius negara Islam.

Rep: Mabruroh, Kamran Dikarma / Red: Nashih Nashrullah
OKI melakukan pembahasan serius menyikapi rentetan kasus penistaan Alquran
Foto: EPA-EFE/SHAHZAIB AKBER
OKI melakukan pembahasan serius menyikapi rentetan kasus penistaan Alquran

REPUBLIKA.CO.ID, TEHRAN –  Menteri Luar Negeri Iran berterima kasih kepada Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), karena telah setuju mengadakan pertemuan darurat menteri luar negeri badan antar-pemerintah, atas penodaan Alquran baru-baru ini.

Dalam sebuah cuitannya, Selasa (25/7/2023), Hossein Amir-Abdollahian mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Sekretaris Jenderal OKI Hissein Brahim Taha dan menteri luar negeri dari negara-negara Muslim lainnya. 

Baca Juga

Mereka disebut telah mengakomodasi proposal sebelumnya, yang diajukan oleh Republik Islam dan Irak untuk pertemuan luar biasa tersebut. 

"Tujuan bersama kami adalah untuk memungkinkan tindakan yang efektif dan mencegah pengulangan penghinaan terhadap Alquran dan kitab suci lainnya," tulisnya di akun Twitter, dikutip di Mehr News, Kamis (27/7/2023). 

 

Pada 28 Juni 2023 lalu, seorang imigran Irak bernama Salwan Momika melakukan aksi perobekan dan pembakaran Alquran di depan Masjid Raya Sodermalm, Stockholm, Swedia. Aksi tersebut dilakukan saat umat Muslim di sana merayakan Idul Adha. Momika memperoleh izin dari otoritas Swedia untuk melaksanakan aksinya karena dianggap sebagai bentuk kebebasan berbicara. Aksi Momika menuai kecaman luas dari negara-negara Muslim.

Pekan lalu, Momika kembali melakukan aksi penodaan Alquran, yakni dengan menginjak-injaknya. Aksi itu dilakukannya di dekat gedung Kedubes Irak di Stockholm. Dalam sebuah wawancara dengan majalah Prancis, Marianne, Momika membela aksi pembakaran Alquran olehnya. Momika menyebut aksi itu dimaksudkan untuk menyoroti diskriminasi terhadap kelompok minoritas di Irak. “Saya akan terus membakar Alquran selama saya diizinkan secara hukum,” ujarnya.

Baca juga: Pembakaran Alquran Dibiarkan, Ketua MUI Singgung Boikot Hingga Pengusiran Dubes

Menteri Luar Negeri (Menlu) Swedia Tobias Billstrom mengatakan, saat ini pemerintahan negaranya sedang mencoba merevisi undang-undang guna mencegah berulangnya aksi penistaan terhadap Alquran. Hal itu disampaikan ketika Billstrom melakukan percakapan via telepon dengan Menlu Aljazair Ahmed Attaf, Selasa (25/7/2023) lalu.

Dalam pembicaraannya, Billstrom menjelaskan kepada Attaf tentang konstitusi Swedia yang membatasi kemampuan pemerintah untuk mencegah atau menindak aksi pembakaran Alquran di negaranya. Kendati demikian, Billstrom menekankan, Swedia sangat menyesalkan kejadian tersebut. “Kami bekerja untuk memastikan bahwa sikap penghinaan terhadap Alquran tidak terulang kembali,” katanya, dikutip Anadolu Agency.

Baca juga: Ketika Kabah Berlumuran Darah Manusia, Mayat di Sumur Zamzam, dan Haji Terhenti 10 Tahun

Sementara itu, aksi pembakaran Alquran di Denmark dilakukan oleh kelompok sayap kanan Danske Patrioter. Pemerintah Denmark menyesalkan dan mengutuk aksi tersebut.

“Pemerintah Denmark mengutuk pembakaran Alquran. Pembakaran kitab suci dan simbol agama lainnya merupakan tindakan memalukan yang tidak menghormati agama orang lain,” kata Kemenlu Denmark dalam sebuah pernyataan yang diunggah di situs resminya, 22 Juli 2023 lalu.

Denmark mengungkapkan, pembakaran Alquran merupakan tindakan provokatif. Aksi itu dinilai tak hanya menyakiti banyak orang, tapi juga menciptakan perpecahan antara agama dan budaya yang berbeda di negara tersebut.

“Denmark memiliki kebebasan beragama dan banyak warga Denmark adalah Muslim. Mereka (Muslim) adalah bagian berharga dari populasi Denmark,” kata Kemenlu Denmark.  

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement