Selasa 16 May 2023 18:30 WIB

Silaturahim FPAG: KH Anang Rikza Bicara Kalimatun Sawa Pesantren Alumni Gontor

Pesantren alumni Gontor dibangun dari semangat dan nilai perjuangan.

Sarasehan FPAG di Pesantren Al Ikhlas Taliwang Sumbawa Barat NTB
Foto:

KEDUA, tata letak bangunan pesantren luas. “Antum lihat pesantren-pesantren saudara kita, pasti jarak satu bangunan dan lainnya luas, tidak sempit, membuat kita nyaman melihat satu tempat ke lainnya,” jelas Kiai Anang.

Kiai Syukri pernah bilang, buatlah pesantren yang luas, karena nanti yang datang ke pesantren adalah tokoh tokoh besar, menteri dan presiden. Semuanya akan bawa banyak mobil. Semua mobil mereka akan mudah bermanuver di dalam area pesantren.

KETIGA,  Membangun pesantren dimotivasi keinginan melahirkan generasi berkualitas, orang-orang besar, tokoh. Ketika belajar di Gontor, santri diberi tugas menjadi pemimpin di berbagai sektor. Ketua kelas, ketua kelompok olahraga, ketua kursus, ketua konsulat, ketua panitia, dan banyak lagi. “Pengalaman di Tazakka, dari 800-an santri, ada 603 santri berpengalaman jadi ketua, jadi pemimpin,” ujar Kiai Anang.

KEEMPAT, Santri harus berpakaian rapi. Pakai sarung dengan berikat pinggang itu style dan fashion tokoh. Santri berjas seperti tokoh. Berkemeja dan berpeci seperti tokoh. Bersepatu seperti tokoh. “Jadi sejak kecil santri sudah diajarkan dan dibiasakan menjadi tokoh, berpenampilan seperti pemimpin.”  

KELIMA, pesantren adalah lembaga pendidikan. Meskipun ada unit usaha yang menghasilkan keuntungan, hakikat unit usaha itu adalah untuk pendidikan. Jadi jangan keluar dari pendidikan.

KEENAM, Pancajangka pesantren adalah kaderisasi dulu, baru kemudian pergedungan. Mengapa begitu?

Kiai Anang menjelaskan pernah mendatangi Suriah. Di sana ada prinsip al insan tsumma al bunyan. Artinya orang dulu baru kemudian gedung. Maksudnya, SDM-nya dulu dibentuk. Dimantapkan dengan sekolah yang tinggi. Baru setelah SDM-nya tersedia, dibangunkan gedung yang memadai.

 

Ada empat kata kunci membangun gedung. Pertama adalah kualitas. Bangunannya kokoh. Kedua, bernuansa seni, mengikuti arsitektur berbagai kawasan. Ketiga, efisiensi. Dibangun dengan biaya sehemat mungkin. Keempat, akuntabilitas. Laporan pembangunannya terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement