Selasa 04 Apr 2023 17:27 WIB

Soal Informasi Atlet Israel Akan ke Bali, KH Muhyiddin: Harus Kita Tolak

Jangan hanya Timnas Sepak Bola Israel yang ditolak.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil
Soal Informasi Atlet Israel Akan ke Bali, KH Muhyiddin: Harus Kita Tolak. Foto:   Foto: Muhyiddin Junaidi
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Soal Informasi Atlet Israel Akan ke Bali, KH Muhyiddin: Harus Kita Tolak. Foto: Foto: Muhyiddin Junaidi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Diberitakan bahwa 2nd ANOC World Beach Games (AWBG) Bali 2023 yang dilaksanakan pada 5-12 Agustus 2023 akan menghadirkan atlet Israel. Sebelumnya, Timnas sepak bola Israel yang akan ke Indonesia juga telah mendapat penolakan dan menjadi polemik.

Menanggapi hal tersebut, Dewan Pakar Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhyiddin Junaidi, mengatakan, kedatangan atlet Israel ke Bali perlu ditolak.

Baca Juga

"Saya berpendapat, yang ditolak bukan hanya Timnas sepak bola Israel yang ditolak. Tapi juga seluruh kegiatan yang berkaitan dengan olah raga dan lain sebagainya, harus kita tolak," kata Kiai Muhyiddin kepada Republika, Selasa (4/4/2023).

Menurut Kiai Muhyiddin, menolak kedatangan Israel ke Indonesia itu sesuai dengan Komunike Akhir Organisasi Kerjasama Islam (OKI) tahun 2016 yang diselenggarakan di Jakarta. OKI jelas dan tegas sepakat melakukan pemboikotan terhadap Israel.

 

"Artinya kalau kita menerima dan memilah-milah mana yang tidak bisa dan bisa, itu menyalahi konstitusi kita dan menyalahi kesepakatan OKI," ujar Kiai Muhyiddin.

Ia mengatakan, sebelumnya Gubernur Bali menolak kedatangan Timnas sepak bola Israel. Maka sekarang tidak boleh diskriminatif, kedatangan atlet Israel perlu ditolak juga.

Menurut Kiai Muhyiddin, Zionis Israel saat ini semakin arogan dan jumawa, apalagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bapaknya teroris dunia didukung oleh Amerika Serikat.

"Kita semua menekan Amerika untuk menghentikan tidak kekerasan terhadap bangsa Palestina, itu Israel tidak akan berani (tanpa dukungan dari Amerika), Israel berani karena di belakangnya ada Amerika," jelas Kiai Muhyiddin.

Makanya perjanjian damai antara Iran dan Arab Saudi, menurut Kiai Muhyiddin, seharusnya dijadikan sebagai titik masuk untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan di kalangan OKI. Supaya tidak lagi bergantung ke Amerika sebagai mediator perdamaian di Timur Tengah. Terutama terkait konflik Arab dan Israel.

"Kita cari saja negosiator lain yang punya keberpihakan kepada umat Islam dan bangsa Arab," kata Kiai Muhyiddin.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement