Ahad 05 Feb 2023 05:48 WIB

Pertanyaan yang Membuat Mualaf Dawud Tersadar dari Hidupnya Lalu Memeluk Islam

Mualaf Dawud memeluk Islam setelah merenungkan makna dan tujuan hidup

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti / Red: Nashih Nashrullah
Dawud David Lynas. Mualaf Dawud memeluk Islam setelah merenungkan makna dan tujuan hidup
Foto: Dok Istimewa
Dawud David Lynas. Mualaf Dawud memeluk Islam setelah merenungkan makna dan tujuan hidup

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Pria kelahiran Leeds, Inggris, Dawud David Lynas mengungkapkan rasa bahagianya setelah berhasil melakukan perjalanan ke kota suci Makkah untuk menunaikan umroh pertama kali dalam hidupnya, April 2022 lalu.

“Saya melakukan umroh, wow itu benar-benar luar perkiraan kami. Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan Anda saat melihat Ka'bah,” katanya kepada Asian Image, Senin (10/4/2022).

Baca Juga

Bagi Lynas yang 20 tahun lalu memeluk Islam, berumroh merupakan bagian pengalaman hidup yang luar biasa. "Sesuatu mengambil alih saya, saya tidak memiliki kendali atas perasaan saya atas seluruh keberadaan saya,"ujar dia.

Lynas pun terpana dan hanya fokus ketika melihat Ka'bah. “Hati saya tercurah saat kami mendekati Ka'bah," kata dia mengenang.

 

Sebagai seorang mualaf, dia dibuat merasa sangat diterima di kota suci Makkah. “Penduduk setempat sangat ramah. Setiap orang yang saya temui sangat gembira ketika mereka mendengar bahwa saya seorang mualaf," ujar dia. 

Lynas tak banyak membahas perjalanan spiritualnya hingga menemukan kedamaian dalam Islam. Kini dia lebih banyak fokus untuk mendukung komunitas mualaf di lingkungannya. 

Lynas mengatakan, dia melihat banyak mualaf kehilangan kontak dengan komunitas Muslim. Pengalaman negatifnya menuntunnya untuk membentuk kelompok pendukung mualaf.

Jaringan pendukung mualaf didirikan untuk memberikan dukungan bagi muslim baru yang tidak selalu tersedia di masjid. Kelompok ini merupakan ruang aman bagi mualaf untuk berbicara tentang masalah yang mempengaruhi kehidupan pribadi mereka.

Dewsbury New Muslims nama kelompoknya, memberikan nasihat dan dukungan yang praktis dan nyata kepada para mualaf, khususnya dalam menghadapi kesulitan yang dihadapi anggota keluarga. Dewsbury New Muslims bukanlah sebuah masjid, melainkan ini adalah lingkungan yang netral.

"Setiap masjid memiliki persuasi dan mazhab masing-masing. Kami menjaga lingkungan yang netral di mana para mualaf dapat fokus pada spiritualitas mereka,” kata dia.

Lynas menyayangkan komentar Muslim sejak lahir terhadap mualaf. Bahwa mualaf yang masih membutuhkan bimbingan Muslim lainnya adalah mereka yang tidak siap untuk pindah keyakinan.

"Sebagian orang bisa memandang rendah kami. Saya pikir para mualaf harus lebih toleran. Muslim harus menjadi duta sejati agama mereka sehingga mualaf dapat memahami Islam dalam esensi sejati," ujar dia.

 

Baca juga: Mualaf Prancis William Pouille, Kecintaannya kepada Arab Saudi Mengantarkannya ke Islam

Bukan berarti menjadi muslim harus berasal dari negara mayoritas Muslim seperti Arab, Pakistan, India atau Malaysia. 

“Ketika Anda menjadi seorang Muslim, tidak ada yang mencoba memberitahu Anda untuk menjadi orang Arab, Pakistan, India, atau Malaysia," ujar dia.

Setiap budaya memiliki kelebihan masing-masing yang dibawanya ke dalam Islam. Dawud mengatakan bahwa tantangan yang dia hadapi sebagai seorang muslim mendorongnya untuk meluncurkan Dewsbury New Muslims, sebuah jaringan pendukung bagi mualaf baru.

Awalnya didirikan di Al Huda Zawiya Center di Dewsbury pada 2010 dengan model yang sama diluncurkan di Manchester. “Saya telah melihat hingga 70 mualaf selama waktu itu. Saya ingin membantu para mualaf hari ini agar mereka tidak dikucilkan,"ujar dia. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement