Rabu 30 Nov 2022 03:35 WIB

Petugas Pemadam Kebakaran Muslim di London Alami Pelecehan di Lembaganya

Pelecehan dihadapi oleh etnis minoritas, orang kulit berwarna, dan wanita.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Ani Nursalikah
Mobil pemadam kebakaran Inggris diparkir di tepi jalan di London, Inggris pada 16 April 2021. Petugas Pemadam Kebakaran Muslim di London Alami Pelecehan di Lembaganya
Foto: Reuters
Mobil pemadam kebakaran Inggris diparkir di tepi jalan di London, Inggris pada 16 April 2021. Petugas Pemadam Kebakaran Muslim di London Alami Pelecehan di Lembaganya

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Petugas pemadam kebakaran Muslim Inggris mengalami pelecehan anti-Muslim di Brigade Pemadam Kebakaran London (LFB). Hal ini menurut tinjauan independen dari lembaga publik, di mana budaya rasialisme, intimidasi, dan misogini tersebar luas.

Dilansir dari Middle East Eye, Kamis (29/11/2022), laporan luas yang dilakukan oleh mantan kepala jaksa penuntut untuk Inggris barat laut, Nazir Afzal, dibuat setelah seorang petugas pemadam kebakaran yang masih dalam pelatihan bunuh diri pada Agustus 2020. Ditemukan banyak kesempatan di mana penghinaan rasial dengan santai diarahkan kepada orang kulit berwarna yang bekerja di LFB.

Baca Juga

Seorang pekerja Muslim mengatakan dia menghadapi pelecehan terus-menerus di tangan rekan-rekannya yang menindasnya karena agamanya. Dalam satu contoh, bacon dan sosis ditempatkan di saku mantelnya dan nomor hotline teroris dipasang di lokernya.

Pelecehan yang dihadapi oleh etnis minoritas, orang kulit berwarna, dan wanita sebagian besar dimanifestasikan melalui ejekan dan intimidasi terus-menerus. Laporan tersebut menemukan bukti penindasan rasialis yang jelas. Hal ini berdampak parah pada staf dalam beberapa kasus, dengan seorang petugas pemadam kebakaran kulit hitam menemukan tali dipasang di atas lokernya.

Setidaknya satu petugas pemadam kebakaran Muslim didiagnosis dengan gangguan stres pascatrauma (PTSD) karena pelecehan yang dia hadapi di LFB. Tarek Younis, dosen senior di Universitas Middlesex yang berfokus pada dampak kebijakan anti-radikalisasi di Inggris, percaya bahwa perilaku anti-Muslim di Brigade Pemadam Kebakaran London menunjukkan masalah yang lebih luas di masyarakat Inggris.

"Sangat sedikit orang dalam posisi berkuasa yang bahkan mengakui contoh eksplisit, apalagi memahami dari mana Islamofobia berasal dan bagaimana cara kerjanya. Jadi daripada melihat Brigade Pemadam Kebakaran London sebagai urusan individu, itu adalah contoh yang sangat baik untuk memikirkan isu-isu yang lebih luas untuk melegitimasi Islamofobia di masyarakat yang lebih luas," kata Younis kepada MEE.

Laporan tersebut tidak menyebut perilaku anti-Muslim di LFB sebagai Islamofobia. Pemerintah Inggris bulan lalu berhenti bekerja untuk menetapkan definisi resmi Islamofobia, dengan sekretaris komunitas Michael Gove mengabaikan adopsi oleh pemerintah Konservatif.

Tinjauan tersebut menyoroti kasus petugas pemadam kebakaran Muslim yang rekan-rekannya berbicara kepadanya dengan aksen India tiruan dan sering bertanya kepadanya tentang 'karpet ajaib' (sajadah) miliknya.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement