Ahad 01 May 2022 15:30 WIB

MUI, Menteri, hingga Anggota DPR Kritik Pandangan Tulisan Rektor ITK

Tulisan Rektor ITK dinilai mengandung unsur islamofobia.

Rep: Amri Amrullah/ Red: Muhammad Hafil
 MUI, Menteri, hingga Anggota DPR Kritik Pandangan Tulisan Rektor ITK. Foto:  Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Balikpapan Budi Santosa Purwakartiko
Foto: itk.ac.id
MUI, Menteri, hingga Anggota DPR Kritik Pandangan Tulisan Rektor ITK. Foto: Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Balikpapan Budi Santosa Purwakartiko

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berbagai kritik dan tanggapan negatif keluar menanggapi tulisan rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Balikpapan Budi Santoso Purwokartiko yang ditafsirkan mengandung diskriminasi, ujaran kebencian dan menyinggung SARA.

Ketua Bidang Dakwah dan Ukhwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Muhammad Cholil Nafis menyebut pandangan Budi Santoso Purwokartiko yang tertuang dalam tulisannya di media sosial, tidak mencerminkan sosok akademisi dan guru besar.

Baca Juga

“Harus diberi tindakan dan diberi pelajaran orang semacam ini. Tak layak dengan gelar akademik guru besar dan penyeleksi beasiswa LPDP yang uangnya berasal dari rakyat. Dia Terjangkit penyakit hasud dan primitif. Seharusnya dibersihkan perguruan tinggi dari orang rasis itu,” kata Cholil Nafis, Ahad (1/5/2022).

Ia menyebut, seharusnya Budi Santoso mundur sebagai rektor karena memiliki pandangan yang sempit dan diskriminatif seperti itu. Dan apa yang disampaikan oleh Budi Santoso itu, menurut dia, sudah mengarah kepada kebencian terhadap Islam atau Islamophobia, yang mana di dunia internasional sikap seperti itupun dikecam oleh PBB.

 

"PBB sudah menyatakan perang terhadap Islamophobia dan MUI sependapat," tegasnya.

Cholil Nafis mengungkapkan pengalamannya pernah menjadi viewer LPDP 2 tahun ada panduan wawancaranya. Sedangkan apa yang disampaikan Budi Santoso ini bisa masuk dalam kategori pelanggaran etika yang harus mendapatkan tindakan karena ia sedang bekerja untuk pemerintah dan bangsa.

"Bagi kaum terpelajar pelanggaran etika itu hal yang berat," kata dia.

Kritik yang sama juga disampaikan Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM (Menkopolhukam), Mahfud MD. Dalam twit-nya di akun media sosial, Mahfud menyindir tuduhan Rektor ITK Budi Santoso soal pakaian islami dan kerudung yang dikaitkan dengan manusia gurun.

"Pakaian yang Islami itu adalah niat menutup aurat dan sopan; modelnya bisa beragam dan tak harus pakai cadar atau gamis. Model pakaian adalah produk budaya. Maka itu menuduh orang pakai penutup kepala seperti jilbab ala Indonesia, Melayu, Jawa, dll sebagai manusia gurun adalah salah besar," tulis Mahfud.

Mahfud menegaskan sejak tahun 1990-an banyak sekali profesor di kampus besar seperti UI, ITB, UGM, IPB yang tadinya tidak berjilbab menjadi berjilbab. Mereka orang-orang pandai tapi toleran, meramu keislaman dan keindonesiaan dalam nasionalisme yang ramah.

"Memuji sebagai mahasiswa/mahasiswi hebat hanya karena mereka tidak memakai kata-kata agamis, 'Insyaallah, qadarallah, sebagaimana ditulis oleh Rektor ITK itu juga tidak bijaksana. Itu adalah kata-kata yang baik bagi orang beriman, sama dengan ucapan Puji Tuhan, Haleluya, Kersaning Allah, dll," terangnya.

Sedangkan Anggota DPR yang juga Ketua Badan dan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Fadli Zon menyebut Rektor ITK Budi Santoso Purwokartiko itu sudah terpapar Islamophobia. Sebab apa yang ia sampaikan semuanya tidak benar, hanya berisi kebencian terhadap Islam.

"Dia sudah terpapar Islamophobia," kata Fadli Zon terkait viralnya tulisan Budi Santoso saat menjadi Pewawancara Beasiswa LPDP yang menyinggung istilah Singgung Manusia Gurun.

Fadli Zon mengingatkan kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama, Direktorat Pendidikan Tinggi, dunia akademisi harus dibersihkan dari pandangan seperti Rektor ITK Balikpapan ini. Dalam istilah dia, dunia akademik harus dimerdekakan kembali.

"Dunia akademik harus dimerdekakan kembali. Benar sekali, Rektor seharusnya dipilih Senat Guru Besar," jelas Fadli Zon.

Untuk membersihkan dunia akademisi dari pandangan diskriminasi, harus ada sikap independensi. Sebab akan sulit melaksanakan amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bila dunia akademik terjajah.

"Itulah cara mudah agar 'kampus merdeka'," katanya.

Sebelumnya Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Prof Budi Santoso Purwokartiko membuat gaduh dengan menulis status di media sosial pada 27 April 2022, hingga viral di media sosial (medsos). Tulisan Budi memicu kontroversi lantaran mengandung unsur suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Budi secara terus terus menunjukkan sikap antiterhadap mahasiswa yang mengucapkan kalimat dalam ajaran Islam, seperti insya Allah, barakallah, hingga qadarallah. Bahkan, ia tidak segan melabeli mahasiswa perempuan yang berjilbab.

"Tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun," demikian salah satu status guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tersebut yang viral dikutip di Jakarta, Sabtu (30/4/2022).

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement