Rabu 06 Jan 2021 22:54 WIB

Semangat Persatuan dalam Risalah Aswaja Pendiri NU

Pendiri NU KH Hasyim Asyari menyerukan persatuan umat Islam

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah
Pendiri NU KH Hasyim Asyari menyerukan persatuan umat Islam (ilustrasi) logo nahdlatul ulama
Foto: tangkapan layar wikipedia.org
Pendiri NU KH Hasyim Asyari menyerukan persatuan umat Islam (ilustrasi) logo nahdlatul ulama

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA—  Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta menggelar acara bedah buku karya Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari. 

Buku yang dikaji dalam kesempatan itu berjudul Risalah Ahl Sunnah wa al-Jamaah atau Risalah Aswaja. 

Baca Juga

KH Mukti Ali Qusyairi selaku ketua lembaga tersebut menjelaskan, pengkajian atas legasi intelektual sang pendiri NU penting dilakukan. Dengan demikian, harapannya generasi kini dapat memetik hikmah dan pelajaran dari pemikiran para pendahulunya.

Dalam karyanya itu, Mbah Hasyim juga turut mengobarkan semangat persaudaraan sesama Muslimin (ukhuwah Islamiyah). Kiai Mukti Ali mengingatkan, kitab tersebut ditulis pada masa kolonialisme. 

Pada waktu itu, kakek presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu menginginkan agar Muslimin jangan terpecah belah. Sebab, ada musuh bersama yang harus dilawan, yakn i penjajahan.

Kalau orang membaca secara jeli, dalam kitab ini juga ada pesan-pesan wpersatuan. Jadi, meskipun misalnya NU sendiri kala itu kerap diposisikan sebagai kelompok yang dituduh sebagai melakukan tahayul, bidah, dan khurafat atau (disingkat) TBC, tetapi Mbah Hasyim tetap mengkritik para penuduh itu secara santun. Sebab, sama-sama umat Islam,kata kiai kelahiran Cirebon, Jawa Barat, itu, sebagaimana dikutip dari dokumentasi Harian Republika.

Secara garis besar, Risalah Aswaja merupakan jawaban Mbah Hasyim terhadap kelompok-kelompok yang menyerangpaham Aswaja. Kiai Mukti menjelaskan, sasaran utama sang mahaguru (hadratussyekh) itu adalah Gerakan Wahabi yang mulai mengemuka di Jazirah Arab pada 1920-an atau selepas runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmaniyah. Dan, Wahabi pun tersebar ke pelbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Bagaimanapun, Mbah Hasyim dalam menangkal serangan para pengkritik Aswaja tetap mengedepankan prinsip ukhuwah. Baginya, perbedaan-perbedaan yang nonprinsipil tidak boleh menguras habis energi umat Islam. Seharusnya energi yang besar itu tercurah untuk bersama-sama membangun kekuatan, perjuangan menuju kemerdekaan bangsa Indonesia.

Mbah Hasyim melihat bahwa persatuan adalah prioritas utama untuk melawan penjajah. Makanya, Mbah Hasyim akhirnya juga mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945.

Itulah seruan untuk menyatukan umat Islam di seluruh Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan negeri,ujar pria yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, itu. 

“Nah, sekarang ini kita punya musuh bersama. Namanya, Covid-19. Mengikuti semangat Mbah Hasyim, kita pun harus bersatu padu agar Indonesia bisa bebas dari wabah ini,” katanya. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement