Selasa 22 Dec 2020 18:16 WIB

Masjid dari Abad ke-18 di Polandia Direnovasi

Masjid tertua di Polandia itu direnovasi dengan bantuan dana publik.

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Ani Nursalikah
Masjid dari Abad ke-18 di Polandia Direnovasi
Foto: Notes from Poland
Masjid dari Abad ke-18 di Polandia Direnovasi

REPUBLIKA.CO.ID, WARSAWA -- Masjid tertua di Polandia telah direnovasi dengan bantuan dana publik. Masjid tersebut berasal dari abad ke-18 dan masih digunakan oleh komunitas Muslim Tatar yang berusia 600 tahun.

Masjid berbentuk sebuah bangunan kayu itu terletak di desa Kruszyniany di timur laut Polandia. Desa ini adalah bagian dari daerah yang berbatasan dengan Lituania dan Belarusia yang telah menjadi rumah bagi komunitas Tatar Lipka sejak abad ke-14.

Baca Juga

Hal tersebut menjadikannya salah satu komunitas Muslim tertua yang terus ada di Eropa. Catatan menunjukkan, masjid sebelumnya di situs yang sama di Kruszyniany pada awal 1717.

Usia pasti dari bangunan saat ini tidak diketahui, tetapi kemungkinan besar dibangun pada paruh kedua abad ke-18. Seperti masjid lain di desa terdekat Bohoniki, masjid itu dibangun dengan gaya khas yang mengingatkan pada gereja kayu setempat.

Bangunan masjid itu diakui sebagai monumen bersejarah resmi oleh Polandia pada 2012. Tahun ini, kantor konservasi monumen di Provinsi Podlasie di mana masjid itu berada, memberikan hibah 80 ribu zloty (18 ribu pound) untuk merenovasi bagian interiornya.

Onet melaporkan, pekerjaan yang baru saja selesai antara lain peletakan lantai baru di mushala pria, penguatan ambang jendela di dinding partisi antara mushola pria dan wanita, dan tambahan penopang untuk lantai mezanin.

Konservator monumen untuk Podlasie, Małgorzata Dajnowicz, mengatakan tahun lalu bantuan lain sebesar 90 ribu zloty dari sumber yang sama diberikan untuk merenovasi pagar mizar (kuburan) masjid.

"Bangunan itu adalah contoh unik dari arsitektur kayu suci Islam di negara itu, dan berfungsi hingga hari ini," kata Dajnowicz kepada Gazeta Wyborcza, dilansir di Notes From Poland, Selasa (22/12).

Yayasan Masyarakat Budaya Tatar, yang bekerja mempromosikan warisan komunitas tersebut, memuji pekerjaan renovasi sebagai langkah yang sangat penting untuk menjaga tempat yang penting bagi leluhur dan anak dan cucu mereka.

Menurut Zabytek.pl, sebuah situs yang dijalankan sebuah badan pemerintah Dewan Warisan Nasional Polandia, masjid tersebut kemungkinan besar awalnya dibangun dengan dana yang disediakan oleh Krzeczowskis, salah satu keluarga Tatar terkaya di wilayah tersebut, yang memiliki desa Kruszyniany, Gorka dan Luzany.

Selama Perang Dunia Kedua, masjid tersebut disita oleh penjajah Jerman dan digunakan sebagai rumah sakit lapangan. Peralatan dan perlengkapan berharga di dalamnya dicuri. Namun, setelah perang, Muslim Polandia kembali menggunakan bangunan tersebut.

Pada 2008, masjid itu dilengkapi dengan sistem keamanan yang didanai oleh Kementerian Kebudayaan dan Warisan Nasional. Masjid tersebut juga menerima kunjungan Pangeran Charles dari Inggris pada 2010, ketika dia diajak berkeliling oleh Mufti Tomasz Miskiewicz.

Pada 2014, masjid tersebut dirusak selama Ramadhan. Seekor babi digambar di dinding luar dan gambar-gambar kasar lainnya disemprotkan ke kuburan di pemakaman. Konservator monumen setempat segera turun tangan untuk membersihkan kerusakan itu.

Komunitas Lipka Tatar di Polandia telah berkurang ukurannya selama berabad-abad. Komunitas ini secara historis melayani negara dalam berbagai perang, termasuk sebagai bagian dari pasukan Raja John III Sobieski yang mengalahkan Kekaisaran Ottoman pada Pertempuran Wina. Saat ini, jumlah mereka berada di antara beberapa ratus dan beberapa ribu, tergantung pada definisi dan perkiraan yang berbeda.

Menurut perkiraan MZR (Persatuan Agama Muslim di Polandia), Muslim di Polandia berjumlah antara 20 ribu-25 ribu. Mayoritas Muslim di Polandia bukan berasal dari Lipka Tatar.

Sebagian besar adalah pendatang baru. Polandia saat ini mengalami tingkat imigrasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarahnya.

Awal tahun ini, MZR meluncurkan portal baru berbahasa Polandia untuk menyediakan sumber daya pendidikan online tentang Islam dan untuk menantang stereotip umum tentang komunitas Muslim.

Sikap anti-Muslim yang dipicu khususnya selama krisis pengungsi 2015, terus dikembangkan oleh partai Hukum dan Keadilan (PiS) yang berkuasa. Pada 2019, ketua PiS dan pemimpin de facto Polandia, Jaroslaw Kaczynski, menggambarkan Islam sebagai serangan budaya yang menyebabkan Eropa harus mempertahankan diri.

https://notesfrompoland.com/2020/12/21/polands-oldest-mosque-renovated-with-public-funds/

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement