Senin 15 Nov 2021 11:31 WIB

Tangisan dan Jeritan Pilu Migran Gugah Muslim Polandia 

Komunitas Muslim Polandia salurkan makanan untuk migran

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Nashih Nashrullah
Ribuan imigran yang terjebak di perbatasan Belarusia berebut bantuan kemanusiaan di Grodno, Belarusia, 11 November 2021.
Foto: EPA
Ribuan imigran yang terjebak di perbatasan Belarusia berebut bantuan kemanusiaan di Grodno, Belarusia, 11 November 2021.

REPUBLIKA.CO.ID, BOHONIKI – Pemimpin Komunitas Muslim Desa Bohoniki, Polandia, Maciej Szczęsnowicz, menangis saat pertama kali melihat para migran kelaparan dan lelah di perbatasan Belarusia dan Polandia. Mereka terjebak saat mencoba masuk dari Belarusia.

Szczęsnowicz melihat orang-orang sangat lelah sehingga mereka tidak bisa lagi berdiri. Mereka juga sangat lapar dan memetik jamur dari tanah untuk dimakan. Namun, yang paling memilukan adalah mendengar suara penderitaan mereka.

Baca Juga

“Itu suara tangisan dan jeritan anak-anak, hal terburuk,” kata Szczęsnowicz. Karena para migran dari Timur Tengah menyeberang dari Belarusia ke daerah hutan dan rawa-rawa, Szczęsnowicz mulai bekerja membantu mengumpulkan pakaian dan menyiapkan makanan untuk mereka.

Selain itu, adanya penumpukan pasukan di perbatasan, Szczęsnowicz juga membantu memberikan makanan kepada pasukan yang melindungi negara. 

 

AP mengunjunginya pada Sabtu  (13/11) di sebuah restoran. Dia dan sukarelawan lain sedang menyiapkan panci besar berisi sup ayam dan sayuran untuk tentara dan penjaga lain di perbatasan, tetapi dia berharap juga bisa dikirim sampai ke para migran.

Sementara zona perbatasan terlarang karena keadaan darurat yang berlaku sejak awal September, pengiriman supnya ke perbatasan telah memberinya akses yang tidak dimiliki orang lain. Pemandangan penderitaan orang-orang terlihat di seberang pagar kawat berduri di Belarusia.

Ribuan migran telah berusaha selama berbulan-bulan untuk menyelinap melalui perbatasan timur Polandia dari Belarusia dan berharap bisa menuju Eropa Barat. 

Bagi politisi Polandia dan Uni Eropa, kedatangan para migran yang sebagian besar adalah Muslim dari Timur Tengah, dipandang sebagai masalah yang perlu dihentikan.

Baca juga : Asteroid Sebesar Gedung Tertinggi di Dunia Menuju Bumi

Meski begitu, ada sejumlah besar orang Polandia yang melihat mereka sebagai manusia biasa dan telah mencari cara untuk membantu mereka. Petugas medis telah datang memberikan bantuan medis kepada mereka yang berhasil lolos. Sementara itu, orang-orang di seluruh negeri telah menyumbangkan uang untuk memberikan bantuan kepada para migran.

Dilansir Al Arabiya, Senin (15/11), sebagian besar sukarelawan beragama Katolik Roma tetapi Szczęsnowicz mengepalai komunitas Muslim di Bohoniki. Bohoniki merupakan tempat tinggal minoritas kecil yang merupakan keturunan dari populasi Muslim Tatar yang menetap di daerah tersebut sejak 600 tahun yang lalu.

“Kami seharusnya membantu semua orang yang memasuki perbatasan Polandia. Semua orang arena mereka manusia,” ujar dia.

Situasi di kawasan itu bisa mematikan dengan sembilan kematian telah dilaporkan, termasuk kematian seorang pemuda Suriah pada Sabtu. Selain itu, risiko meningkat saat musim dingin mendekat. Szczęsnowicz khawatir akan ada lebih banyak kematian. 

 

Sumber: alarabiya 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement