Senin 16 Nov 2020 18:13 WIB

Tim MTQ Syahril Quran Kaltim Tampil Beda dengan Beat Box

Tim Syahril Quran Kaltim berharap bisa maju hingga final.

Rep: Febrian Fachri/ Red: Ani Nursalikah
Tim MTQ Syahril Quran Kaltim Tampil Beda dengan Beat Box. Kontingen Kalimantan Timur (Kaltim) tampil beda saat perlombaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXVIII cabang Syahril Quran. Tiga orang perwakilan Kaltim, yakni Zulfikar, Aji Nurferdian, dan Diki Andika Putra menampilkan kebolehannya di cabang Syahril Quran dengan memasukkan seni beat box.
Foto: Panitia MTQ Nasional ke-XXVII
Tim MTQ Syahril Quran Kaltim Tampil Beda dengan Beat Box. Kontingen Kalimantan Timur (Kaltim) tampil beda saat perlombaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXVIII cabang Syahril Quran. Tiga orang perwakilan Kaltim, yakni Zulfikar, Aji Nurferdian, dan Diki Andika Putra menampilkan kebolehannya di cabang Syahril Quran dengan memasukkan seni beat box.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Kontingen Kalimantan Timur (Kaltim) tampil beda saat perlombaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXVIII cabang Syahril Quran. Tiga orang perwakilan Kaltim, yakni Zulfikar, Aji Nurferdian, dan Diki Andika Putra menampilkan kebolehannya di cabang Syahril Quran dengan memasukkan seni beat box.

"Saya sudah persiapkan penampilan dengan memasukkan beat box sejak jauh-jauh hari. Semoga kami bisa melaju sampai babak final," kata Zulfikar, Senin (16/11).

Baca Juga

Seni beat box merupakan salah satu bentuk seni yang menghasilkan bunyi ritmis dan ketukan drum, instrumen musik, dan tiruan dari bunyi-bunyian lainnya dari mulut, lidah, bibir, dan rongga-rongga ucap. Perlombaan cabang Syahril Quran MTQ ke XXVIII ini diadakan di Gedung Serba Guna Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol, Padang.

Zulfikar menyebut timnya sudah menyiapkan materi yang akan ditampilkan di MTQ Nasional ke-28 sejak dua bulan lalu. Zulfikar mengaku sempat gugup sebelum tampil.

Tapi ia bersyukur, saat tampil ia bersama rekannya Aji Nurferdian dan Diki Andika Putra tampil percaya diri. Zulfikar berharap ia bersama rekannya mampu menjadi juara supaya dapat kembali ke kampung halaman dengan bangga.

Pelatih Syahril Quran Kaltim, Wiwik Angranti mengatakan timnya mendapat tema mengenai etika berkomunikasi di media sosial. Dari tema tersebut, mereka mengumpulkan materi dari buku-buku referensi dan isu-isu terkini. Wiwik menilai media sosial memiliki dampak positif dan negatif bagi masyarakat.

"Baik untuk kemudahan akses informasi. Tapi dampaknya juga mengkhawatirkan bagi generasi muda bila luput dari pengawasan. Itu yang disampaikan tim kami saat tampil," ujar Wiwik.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement