Rabu 08 Apr 2020 17:30 WIB
Buya Hamka

Buya Hamka dan Wacana Emansipasi Islam (Bagian 3)

Wacana Buya Hamka Soal Emansipasi Islam

Buya Hamka dan isterinya
Foto: Google.com
Buya Hamka dan isterinya

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Priyanka Kusuma Wardhani – Peminat Sejarah Islam di Indonesia

Menolak tudingan kaum feminis, Buya Hamka menjelaskan bahwa dalam Islam, perempuan bukanlah mahluk yang dipandang rendah.

Salah satu pendapat kelompok feminis bahwa perempuan hanyalah the second human being sebab tercipta dari bagian tubuh laki-laki bisa dengan cermat dijawab oleh Buya Hamka. Sesungguhnya, Buya Hamka menyangsikan pendapat tersebut.

Dalam Tafsir Al-Azhar surat An-Nisa ayat 1, beliau menjelaskan memang sebagian ulama tafsir terdahulu, antara lain Ibnu Abbas dan Mujahid, menjelaskan bahwa Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam. Ibnul Mundzir dan Abd bin Humaid mendetailkan tulang rusuk Adam yang dimaksud berada di sebelah kiri yang paling bawah. Maka, tak heran jika ahli tafsir selanjutnya mengikuti jejak ahli tafsir sebelumnya. Padahal, dalam ayat tersebut tidak disebutkan sama sekali tentang tulang rusuk.

 

Pertanyaan yang muncul, dari manakan ahli tafsir terdahulu menyebutkan demikian? Menurut Buya Hamka, memang benar ada sabda Rasulullah S.A.W. yang menyebutkan agar perempuan harus dijaga dengan hati-hati sebab dia diciptakan dari tulang rusuk.

Laksana tulang rusuk, jika perempuan dibiarkan begitu saja maka dia akan tetap bengkok dan jika terlalu keras maka dia akan patah. Namun, meskipun hadist ini termasuk shahih, belum dapat dijadikan alasan yang tepat untuk mengatakan bahwa perempuan pertama berasal dari tulang rusuk laki-laki sebelah kiri bagian paling bawah.

Setidaknya, pesan yang dapat dipetik dari hadist tersebut ialah tentang tabiat perempuan yang menyerupai tulang rusuk. Jadi, bukan dirinya yang dibuat dari tulang rusuk melainkan tabiatnya saja.

Anggapan Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam sebenarnya berasal dari kaum Yahudi. Cerita ini tertulis dalam kitab Kejadian (pasal II, ayat 21—22), salah satu dari lima kitab yang menurut mereka adalah Taurat.

“2:21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. 2:22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.” (Kejadian 2:21—22)

Namun, umat Kristen sendiri menyangsikan apakah benar itu wahyu yang diturunkan kepada Musa atau hanya karangan orang-orang setelahnya? Will Durant, seorang sejarahwan Yahudi, mempunyai anggapan barangkali kitab itu hanya catatan kepercayaan penduduk Babylon dan Mesopotamia yang dikumpulkan dan dijadikan kitab suci olah kaum Yahudi.

Islam adalah satu-satunya agama yang membebaskan ijtihad bagi yang ahli. Suatu hal yang wajar dan tidak salah jika ada perbedaan pendapat dalam penafsiran. Menurut Buya Hamka, tidak dihukum murtad siapapun yang meyakini Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, begitu juga sebaliknya. Maka, tidak ada gunanya pula bagi kaum perempuan merasa rendah diri karena hal yang masih belum pasti sejarahnya.

Lalu, apakah benar bahwa Adam dan Hawa diturunkan ke Bumi karena kesalahan Hawa yang termakan bujuk rayu setan? Yahudi, Kristen, dan Islam memang memiliki kesamaan dalam kisah asal usul manusia: sama-sama berasal dari surga. Sebab musabab diturunkannya manusia ke dunia juga sama: tipu daya setan. Namun, siapa yang bertanggung jawab atas terusirnya manusia dari surga menjadi pembeda dalam masing-masing kitab suci. Dalam Alkitab dikisahkan,

“3:1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"

3:2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,

3:3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati." 3:4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, 3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah,   tahu tentang yang baik dan yang jahat."

3:6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya” (Kejadian 3: 1—6)

Dalam Kitab Kejadian (Perjanjian Lama) Pasal III, dijelaskan bahwa iblis yang memperdaya Adam dan Hawa menumpang dalam mulut ular. Disebutkan pula bahwa yang tertipu lebih dulu adalah Hawa sebab perempuan merupakan makhluk yang lemah dan mudah terperdaya. Dalam ayat selanjutnya juga diceritakan bahwa Adam mengaku kepada Tuhan bahwa dia tidak bersalah, istrinya-lah yang salah karena merayu dan terperdaya lebih dulu.

“3:12 Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan." (Kejadian 3: 12)

             ******

Persis dengan apa yang dijadikan dalil perjuangan perempuan oleh kelompok feminis, cerita ini membuat perempuan terkungkung dalam stigma kalau perempuan adalah sebab timbulnya dosa, penggoda laki-laki, dan lemah imannya. Anggapan ini melahirkan istilah femina atau feminis yang berasal dari Bahasa Latin fei-minus. Fei artinya iman, dan minus artinya kurang, sehingga feiminus berarti kurang iman.

Lalu, apakah Al-Qur’an menyalahkan perempuan?

“Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)".” (QS Al-A’raf (7): 20)

Buya Hamka memerincikan detail kisah ini di Al-Qur’an. Dalam surat Al-Baqarah ayat 36, memang benar bahwa Adam dan Hawa dikeluarkan dari surga sebab keduanya terjerat tipu daya setan. Begitu juga dalam surat Al-A’raaf ayat 20, keduanya sama-sama diperdayakan oleh setan untuk memakan buah terlarang. Kedua surat ini menjelaskan bahwa keduanya sama-sama bertanggung jawab dan bersalah.

“Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.” (QS Thaahaa (20): 115)

“Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia." (QS Thaahaa (20): 120—121)

Namun, dalam surat Thaahaa dijabarkan lagi bahwa yang bertanggung jawab ialah Adam. Surat Thaahaa ayat 115 memperlihatkan jika laki-laki yang bertanggung jawab dan kepada laki-laki pula dikenai perintah dan janji untuk menjauhi buah terlarang, namun dia lupa dan lalai.

Ayat 120 kemudian dengan gamblang menceritakan bahwa Adam yang dibujuk oleh setan langsung, bukan dari rayuan istrinya. Ayat 121 menceritakan bahwa keduanya sama-sama memakan buah terlarang. Namun, di ayat ini pula ditegaskan bahwa Adam yang melanggar perintah Allah karena tidak sangup menahan diri dari tipuan setan dan tidak sanggup mencegah istrinya.

                   ******

Dari perbandingan ayat-ayat dalam Bibel maupun Al-Qur’an ini, jelas bagaimana Yahudi, Kristen, dan Islam memposisikan perempuan. Sayangnya, diakui oleh Buya Hamka, bahwa pada zaman kemunduran Islam, ada sejumlah tafsir Al-Qur’an yang dibumbui oleh israiliyyat.

Israiliyyat merupakan tafsir yang diwarnai dengan kisah atau dongeng yang diterima oleh Ahlul Kitab lalu dimasukan oleh Ahli Tafsir ke dalam tafsir Al-Qur’an. Ahli Tafsir yang seperti itu kebanyakan orang Yahudi yang kemudian memeluk Islam. Karena itu, Buya Hamka tidak heran jika ada pengaruh buruk terhadap pikiran sebagian orang Islam yang berbeda dengan tuntunan Al-Qur’an.

Mengapa Laki-laki yang Memimpin?

Sebenarnya, tidak hanya masalah dongeng manusia turun ke dunia yang dipersengketakan kaum feminis Islam dalam menggaungkan gerakannya. Ada beberapa masalah ketidakadilan lain yang dirasakan oleh kaum feminis seperti laki-laki yang harus menjadi pemimpin, jumlah warisan perempuan yang hanya setengan dari bagian laki-laki, hingga jumlah hewan yang dikorbankan ketika kelahiran bayi perempuan yang lebih sedikit dibandingkan bayi laki-laki.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS An-Nisaa (4):34)

Memang benar bahwa di surat An-Nisaa’ ayat 34 menyebutkan “Laki-laki adalah pemimpin atas perempuan-perempuan, lantaran Allah telah melebihkan sebagian mereka atas yang sebagian”.

Buya Hamka di Tafsir Al Azhar menerangkan kalau di ayat ini jawaban mengapa pembagian warisan laki-laki lebih banyak dibanding perempuan, mengapa laki-laki yang membayar mahar, hingga mengapa laki-laki yang diizinkan beristri empat bukan sebaliknya? Karena laki-laki yang memimpin perempuan, bukan perempuan yang memimpin laki-laki, dan bukan pula setara kedudukannya. Bisa jadi kedudukan yang tidak setara ini yang kemudian akan disanggah oleh kelompok feminis.

Namun, dalam tafsirnya, Buya Hamka mengajak kita untuk kembali menilik ayat tersebut. Ayat tersebut tidak serta-merta memerintahkan laki-laki untuk menjadi pemimpin. Tidak ada kalimat seperti “wahai laki-laki, wajiblah kamu menjadi pemimpin!”.

Allah menjelaskan, melalui ayat ini, berupa kenyataan memang naluri laki-laki yang memimpin perempuan. Betapapun primitif ataupun modern rumah tangganya dengan menjunjung tinggi emansipasi wanita, jika ada perampok, secara naluri laki-laki yang akan melindungi keluarganya tanpa ada komando. Entah itu kedudukannya sebagai suami atau anak laki-laki tertua dalam keluarga. Tidak hanya manusia, hewan pun memilih pejantan sebagai pemimpin kelompoknya.

Allah melebihkan sebagian kepada laki-laki daripada perempuan berupa kekuatan fisik dan pikiran sehingga lebih juga tanggung jawab seorang laki-laki. Islam mewajibkan laki-laki membayar mahar kepada perempuan ketika pernikahan. Mahar ini diibaratkan sebuah peraturan tidak tertulis tentang tanggung jawab. Dengan diserahkannya mahar, istri menyerahkan dirinya untuk dipimpin suaminya, bukan lagi orang tuanya.Pun begitu dengan suami, dia siap bertanggung jawab untuk membela dan memimpin istrinya.

Menurut Musdah, gambaran ideal perempuan dalam masyarakat Islam ketika sudah menikah berarti seutuhnya milik suami dan harus memberikan pelayanan seumur hidupnya. Kalau perlu, istri harus menyembah suaminya, tidak bisa keluar rumah tanpa izin suaminya, dan menjaga harta suami ketika tidak berada di rumah.

Buya Hamka dalam tulisannya yang lain menambahkan, laki-laki diberi kelebihan fisik dibanding perempuan, maka laki-laki yang wajib mengembara mencari nafkah sedangkan perempuan bertanggung jawab menjaga harta di rumah. Dengan kelebihan kondisi fisik itu, laki-laki yang bisa bertanggung jawab penuh sebagai pemimpin. Perempuan yang baik, dalam ayat lanjutannya disebutkan, adalah perempuan yang taat dan mampu menjaga rahasia keluarganya.

“Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS An-Nisaa (4):34)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement