Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Begini Pendapat Sarjana Barat terhadap Piagam Madinah

Selasa 25 Feb 2020 23:58 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Masjid Nabawi di Kota Madinah al-Munawarah mulai dipadati jamaah haji dari berbagai negara,  Rabu (21/8) malam waktu setempat. Jamaah haji Indonesia gelombang kedua baru tiba di Madinah pada Rabu siang. Selama di Madinah, jamaah Indonesia akan melaksanakan shalat 40 waktu (arbain) di Nabawi.

Masjid Nabawi di Kota Madinah al-Munawarah mulai dipadati jamaah haji dari berbagai negara, Rabu (21/8) malam waktu setempat. Jamaah haji Indonesia gelombang kedua baru tiba di Madinah pada Rabu siang. Selama di Madinah, jamaah Indonesia akan melaksanakan shalat 40 waktu (arbain) di Nabawi.

Foto: Republika/Syahruddin El-Fikri
Piagam Madinah merupakan konsensus masyarakat madinah.

REPUBLIKA.CO.ID, Dalam jangka panjang, substansi Piagam Madinah telah menjadi spirit bagi pentingnya keberadaan konstitusi suatu bangsa. Tanpa adanya konstitusi, kehidupan bernegara dan bermasyarakat tidak akan teratur. Keberadaan Piagam Madinah yang monumental itu pun diakui para ahli sejarah Barat. Mereka menyebut naskah politik yang dibuat Muhammad SAW itu dengan nama yang beragam.

Sejarahwan W. Montgomery Watt menamainya The Constitution of Medina, R.A. Nicholson menyebutnya Charter, Majid Khaduri menamainya Treaty, Philip K. Hitti sebagai Agreement, Zainal Abidin Ahmad Piagam, sementara kata Al Shahifah adalah nama yang disebut dalam naskah aslinya. Kata Al Shahifah tertulis delapan kali dalam teks piagam.

Selain Al Shahifah, di dalam teks juga tertulis sebutan Kitab dua kali. Kata Treaty dan Agreement menunjuk pada isi naskah. Kata Charter dan Piagam lebih menunjuk kepada surat resmi yang berisi pernyataan tentang sesuatu hal. Sementara itu, kata Constitution menunjuk kepada kedudukan naskah itu sebagai dokumen resmi yang berisi pokok-pokok kenegaraan. Kata Shahifah semakna dengan Charter dan Piagam.

Baca Juga

Para sejarahwan juga menyebut isi Piagam Madinah sebagai autentik (asli). W. Montgomery Watt, dalam bukunya Muhammad at Medina misalnya, menyatakan bahwa ''dokumen ini secara umum diakui autentik.'' Ia menambahkan dokumen tersebut merupakan ide yang mendasari negara Islam pada awal pembentukannya.

Pengakuan serupa juga dilontarkan sosiolog Barat lainnya, Robert N. Bellah. Menurut Bellah, Piagam Madinah merupakan ''Konstitusi termodern di zamannya.'' Mengutip sumber-sumber hadits, di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud dengan sumber utama Anas bin Malik, yang mengatakan, ''Rasulullah memperjanjikan golongan Quraisy dan Anshar di rumahku'', Montgomery Watt mengatakan, bahwa Piagam Madinah dibuat sebelum perang Badar.

Argumentasi Watt adalah dengan menunjuk klausul dimasukkannya golongan Yahudi ke dalam Ummah adalah pandangan penting untuk menentukan itu dibuat sebelum perang Badar. Pandangan lain, seperti diutarakan Subhi al Shalih, menyebutkan bahwa Piagam Madinah ditulis pada tahun pertama Hijriyah. Sedangkan pakar hadits, Al Thabari, mengatakan penulisan piagam dilakukan ketika Muhammad SAW, baru berdiam di Madinah.

 

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA