Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Saat Mahasiswi UGM Berdialog dengan UAS di Masjid UII

Ahad 13 Oct 2019 18:36 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Fernan Rahadi

Penceramah, Ustaz Abdul Somad (UAS), saat mengisi Seminar Moderasi  Islam di Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (UII), Sabtu  (12/10).

Penceramah, Ustaz Abdul Somad (UAS), saat mengisi Seminar Moderasi Islam di Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (UII), Sabtu (12/10).

Foto: Republika/Wahyu Suryana
UAS mengimbau agar mahasiswa fokus belajar namun terus menguatkan iman.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Tepuk tangan meriah terjadi saat sesi tanya-jawab dalam seminar Ustaz Abdul Somad di Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (UII). Penyebabnya, penanya ternyata merupakan mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM).

Tepuk tangan spontan diberikan masyarakat lantaran UAS sebelumnya dijadwalkan mengisi kuliah umum di Masjid Kampus UGM. Namun, agenda itu tidak dapat terwujud lantaran Rektorat UGM meminta acara kuliah umum tersebut dibatalkan.

Uniknya, baik penanya maupun UAS sama-sama tidak tergoda memberikan pernyataan apapun terkait pembatalan tersebut.  Penanya, Fira dari Fakultas Psikologi UGM, yang hadir bersama teman-teman kampusnya yang lain, mengaku memiliki keresahan luar biasa. Khususnya, dalam mempelajari ilmu-ilmu psikologi.

Salah satu contohnya, ketika buku-buku dari pakar-pakar psikologi Barat yang menjadi panduan mereka menganggap biasa perilaku LGBT. Padahal, bagi Muslim, itu merupakan penyakit yang harus dihindari.

Fira merasa bingung untuk menjelaskan masalah itu dalam perspektif Islam maupun perspektif keilmuwan. Karenanya, ia berharap UAS bisa memberikan nasihat untuk menghadapi situasi-situasi semacam itu.

"Ustaz, dengan kerendahan hati yang sangat dalam, mohon nasihatilah kami, nasihati kami, mahasiswa UGM terutama dan para perempuan yang ingin menyejahterakan umat," kata Fira, Sabtu (12/10).

Setelah itu, UAS yang didampingi moderator Nurkholis dan Rektor UII Fathul Wahid, memberikan jawabannya. Ia menilai, hal itu memang menjadi dilema yang dihadapi mahasiswa ketika mempelajari buku pakar-pakar Barat.

Sebagai contoh, UAS menceritakan ada mahasiswa S1 Hukum yang datang kepadanya. Kemudian, mahasiswa itu mengungkapkan rencana menjalani S2 Hukum Islam yang oleh mahasiswa tersebut dianggap suatu pembersihan.

Bagi UAS, ilmu itu tetap bermanfaat. Sebab, justru orang-orang yang sudah mengerti itulah yang bisa membela sesama manusia lain yang mungkin tidak mengerti hukum-hukum konvensional tersebut.

"Tekuni ilmu ini apapun namanya, tapi dengan benteng yang kuat, nanti antum-lah yang bisa mengklasifikasi mana sampah, mana rambut, mana ijuk, mana lalang, mana rumput, mana padi," ujar UAS.

Ia menilai, orang yang mengetahui kejelakan tidak melulu karena ingin melakukan tapi untuk menjauhi. Misal, mereka yang belajar Kriminologi di UI tentu tidak ingin menjadi kriminal, tetapi sebaliknya.

Untuk itu, UAS menyarankan mahasiswa-mahasiswa fokus saja ke fakultas masing-masing. Tapi, harus terus menguatkan iman agar pegangan diri menjadi kuat sampai angin kencang sekalipun tidak mampu menumbangkan. "Insya Allah, kuatkan ibadah, kuatkan bacaan, Allah akan memberikan kakuatan, Insya Allah," kata UAS. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA