Kamis, 3 Rajab 1441 / 27 Februari 2020

Kamis, 3 Rajab 1441 / 27 Februari 2020

Satire 'Hari Santri' Identik Dengan 'Hari Taliban'?

Selasa 15 Okt 2019 04:31 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Santri Pondok Modern Gontor - Ponorogo, Jawa Timur sedang Mengaji bersama

taliban

Foto:
Satire 'Hari Santri' Sama Dengan 'Hari Taliban'?

----------------

Jawaban saya sangat sederhana. Dalam kitab suci Bhagavad-gita IX.20-21 disebutkan istilah "svarga" (baca: "swarga"). Demikian bunyi ayatnya dalam bahasa Sanskrit.

trai-vidya mam soma-pah puta-papa
yajnair istva svarga-tim prarthayante
te punyam asadya surendra lokam
asnanti divyam divi deva-bhogam

te tam bhuktva svarga-lokam visalam
ksine punye martya-lokam visanti
evam trayi-dharmam anuprapanna
gatagatam karma-karma labhante.

("Orang yang mempelajari Weda dan minum air soma dalam usaha mencapai planet-planet sorga, menyembah-Ku secara tidak langsung. Setelah mereka disucikan dari reaksi-reaksi dosa, mereka dilahirkan di planet Indra yang saleh di sorga. Di sana mereka menikmati kesenangan para dewa. Bila mereka sudah menikmati kesenangan indera-indera yang luas di sorga seperti itu, dan hasil kegiatan salehnya sudah habis, mereka kembali lagi ke planet ini, tempat kematian. Jadi, orang yang mencari kenikmatan indera-indera dengan mengikuti prinsip-prinsip dari 3 Weda hanya mencapai kelahiran dan kematian berulang kali." Lihat AC. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, Bhagavad-gita Menurut Aslinya (Jakarta: Hanuman Sakti, 2000), hlm. 479-480.

Srila Prabhupada juga menyatakan bahwa yang dimaksud "swarga-loka" adalah planet-planet material yang disebut sorga, tempat tinggal para dewa. Lihat, ibid., hlm. 872. Sementara itu, dalam kitab suci Bhagavad-gita versi bahasa Arab, teks Bhagavad-gita IX.20-21 tertulis demikian ayat-ayatnya:

ان من يدرسون الفيدا ويشربون عصير سوم مبتغين الجنة، يعبدونني بصورة غير مباشرة، ويولدون على كوكب اينضر حيث يتمتعون بمباهج ربانية.

بعد تمتعهم هكذا بالحواس الجنة واستنفاد نتاىج انشطتهم التقية يعودون الى الكواكب البشرية اخرا. بالتالي هؤلاء الذين يسعون الى التمتع بالحواس من خلال التمسك بمبادىء الفيدز لا يحققون سوى تكرار الولادة والموت.

Pada teks tersebut, khususnya Bhagavad-gita IX.21, istilah "svarga-lokam" diterjemahkan menjadi الجنة (al-jannah) dalam kitab Bhagavad-gita versi bahasa Arabnya. Jadi istilah "svarga" dalam bahasa Sanskrit disepadankan dengan istilah الجنة (al-jannah), sebagai tempat kediaman para dewa dan tempat hunian dewa Indra. Meskipun secara teologis maknanya berbeda dengan versi Islam, orang-orang Hindu penutur bahasa Arab di Timur Tengah juga menyebut dengan sebutan الجنة (al-jannah) tatkala berbicara tentang "svarga-loka" menurut versi teologis agama Hindu. Dengan demikian, istilah bisa saja sama, meskipun makna teologisnya amat berbeda dengan versi الجنة (al-jannah) menurut versi Islam. Lihat AC. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. Bhagavad-gita: بهغفض غيطا بدون تصرف، نعمته الربانية (Tel Aviv: Bhaktivedanta Book Trust, 1972), hlm. 454.

Dengan demikian, konsep "swarga-loka" dalam teologi Hinduisme tidaklah sama dengan konsep سوركا (baca: "sorga") dalam Quran secara teologis, meskipun Quran terjemahan bahasa Melayu menggunakan istilah سوركا (sorga) yang secara linguistik memang diadopsi dari leksikon (mufradat) bahasa Sanskrit. Istilah yang dipakai secara etimologis tetap dipertahankan, diadopsi dari kosakata Sanskrit, tetapi makna teologisnya dialihkan sesuai konsep teologis kitab suci Quran. Bila Muslim di Asia Tenggara dilarang memakai istilah "sorga" karena asal usulnya diadopsi dari bahasa Sanskrit kaum Hindu, maka seharusnya Muslim diharamkan merindukan "sorga" karena "sorga" itu tempat hunian para dewa dan tempat tinggal dewa Indra.

Pengadopsian istilah "swarga" dalam bahasa Sanskrit menjadi سوركا (baca: "sorga") dalam bahasa Melayu seperti pengadopsian istilah "bakso" dalam bahasa Melayu/ Indonesia. Istilah "bakso" tetap dipertahankan, meskipun istilah kosakata itu asalnya dari bhs Mandarin (Cina). Namun, secara konsep maknanya yang diubah. Bakso bahannya bisa dibuat dari daging ayam, daging sapi atau pun jamur, meskipun istilah "bak" itu sendiri bermakna "babi." Apakah "bakso" itu bahannya selalu terbuat dari babi? Tentu saja tidak.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA