Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Makanan Terlezat Disajikan pada Era Abbasiyah di Baghdad

Rabu 09 Oct 2019 05:00 WIB

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi diversifikasi makanan

Ilustrasi diversifikasi makanan

Dinasti Abbasiyah menyajikan makanan-makanan terlezat.

REPUBLIKA.CO.ID, Baghdad dikenal sebagai 'persimpangan alam semesta', hal ini diungkapkan oleh khalifah pertama Kekaisaran Abbasiyah ketika dia menemukan Baghdad pada 762 masehi. Dan pada saat itu: Baghdad berada di posisi 5.000 kilometer (3.000 mil) dari perbatasan Cina di timur dan 5.000 kilometer dari Pilar Gibraltar di pintu masuk Atlantik di barat.

Baca Juga

Beberapa ratus tahun kemudian, satu masakan mewah pertama kali dibuat di Baghdad, kemudian masakan itu melanglang buana mengikuti Jalan Sutra yang saling terkait ke beberapa negara dan jalur laut Samudra Hindia dan Mediterania. Para penakluk, pedagang, peziarah, pemuka agama, dan juru masak dari Baghdad itu pun telah menyebar ke seluruh ruang belahan bumi ini. 

Mengutip Aramcoworld, masakan mewah Islam pertama adalah masakan mewah kekhalifahan, dibuat dengan luar biasa pada tahun 1.000 masehi. Saat itu, masakan mewah dibuat untuk menyempurnakan masakan sederhana orang-orang Arab, yang bumbu dasarnya kurma, susu, dan gandum, para juru masak istana di Baghdad mengambil keuntungan dari tradisi masakan mewah ini terus menerus.

Masakan mewah semakin populer melalui suksesi dapur kekaisaran Persia untuk orang-orang dari Mesopotamia kuno. Para dokternya menggunakan teori-teori diet paling maju, teori-teori Galen di Kekaisaran Romawi, serta Caraka dan Susruta di India.

Makanan sehat adalah kesatuan yang sama dengan makanan lezat. Masakan mewah juga dibenarkan dan cocok bagi penguasa yang merawat wilayah mereka, layaknya tukang kebun yang merawat tanaman mereka.

Kesenangan duniawi seperti, minuman, pakaian, seks, aroma, dan suara, makanan juga termasuk salah satu kesenangan duniawi yang diyakini sebagai surga firdaus. Bahkan salah seorang penulis yang pada akhir abad ke-13 menyusun koleksi resep yang sekarang dikenal sebagai Buku Masak Baghdad, mengatakan bahwa makanan adalah kesenangan yang terbesar dari semuanya karena tanpa makanan tidak ada kenikmatan lain yang bisa dinikmati.

Pada tahun itu, masakan mewah juga dinikmati masyarakat Muslim di Damaskus, Aleppo, Kairo, Palermo di Sisilia, dan Córdoba, lalu di Seville dan Granada di Spanyol. Pada akhir abad ke-10, buku masak pertama yang masih bertahan dalam bahasa Arab adalah Kitab al-Tabikh (Book of Dishes), telah disusun Ibn Sayyan al-Warraq sebagai catatan masakan khalifah Baghdad dan para abdi dalemnya.

Lima buku masak lainnya masih ada sejak abad ke-13, dan untuk buku lainnya belum ada yang bisa buktikan keberadaannya, karena lebih banyak buku masak di sisi dunia lainnya.

Di beberapa kota, kincir air digunakan untuk menggiling gandum menjadi tepung, kilang gula menguapkan jus tebu (tanaman yang diperkenalkan dari India) untuk membuat beberapa tingkat gula.

Kemudian ditemukan metode baru penyulingan untuk menciptakan esensi aromatik kelopak mawar dan bunga jeruk. Minyak ditekan dari buah zaitun, juga dari biji wijen dan poppy. Produksi telur, sosis, dan pembuatan daging yang diawetkan, mentega, keju, roti, dan gula-gula semuanya berada di tangan spesialis yang terampil.

 

  

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA