REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ketika bedah operasi modern sering dianggap sebagai produk kemajuan teknologi abad ke-20, sejarah justru mencatat bahwa fondasi utamanya telah diletakkan lebih dari seribu tahun lalu. Di wilayah Muslim Spanyol selatan, para tabib telah melakukan pembedahan vaskular, umum, dan ortopedi dengan pendekatan ilmiah, etis, dan manusiawi. Salah satu tokoh sentral dalam revolusi medis ini adalah Abul Qasim Khalaf ibn al-Abbas al-Zahrawi, ahli bedah dari Cordoba yang karya dan inovasinya menjadi pijakan penting bagi perkembangan dunia bedah hingga hari ini.
Bedah oprasi modern adalah puncak kecanggihan yang sangat tinggi dari berabad-abad inovasi oleh orang-orang berdedikasi yang bertekad menyelamatkan nyawa manusia. Etika penyelamatan nyawa ini telah berdenyut di jantung wilayah Muslim Spanyol selatan seribu tahun yang lalu, di mana kaum Muslim melakukan tiga jenis pembedahan: vaskular, umum, dan ortopedi.
Dikutip dari buku 1001 Inventions Muslim Heritage in Our World, salah satu ahli bedah Muslim paling terkenal pada masa itu tinggal di Cordoba pada puncak peradaban Islam. Abul Qasim Khalaf ibn al-Abbas al-Zahrawi yang dikenal di Barat sebagai Abulcasis.
Abul Qasim Khalaf ibn al-Abbas al-Zahrawi mengamati, berpikir, mempraktikkan, dan menanggapi setiap pasiennya dengan keterampilan dan kecerdikan. Sehingga ia diakui pada masanya sebagai seorang ahli bedah terkemuka dan menjadi dokter istana bagi penguasa al-Andalus, al-Mansur.
Ia merevolusi dunia bedah dengan memperkenalkan prosedur-prosedur baru, lebih dari dua ratus instrumen bedah, serta memberikan penjelasan rinci tentang disiplin kedokteran gigi, farmasi, dan bedah pada masanya. Bukunya, al-Tasrif juga menetapkan aturan-aturan pengobatan praktis dengan menekankan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam hampir setiap situasi medis yang dihadapi.




