Thursday, 12 Rabiul Awwal 1442 / 29 October 2020

Thursday, 12 Rabiul Awwal 1442 / 29 October 2020

Begini Saran Ponpes Tarbiyatul Banin Cirebon Soal SKI

Ahad 22 Sep 2019 16:36 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Agung Sasongko

Santri

Santri

Foto: Republika/Tahta Aidilla
Ponpes Tarbiyatul Banin melihat sejarah perlu dipelajari dan diambil hikmahnya.

REPUBLIKA.CO.ID,  CIREBON --- Pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatul Banin Cirebon, KH Abdullah Nasiruddin menanggapi wacana penghapusan materi perang dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)  oleh Kementerian Agama yang sempat menjadi polemik dalam beberapa pekan terakhir.  Kiai Abdullah yang juga alumni Al Azhar Kairo tak sepakat jika materi perang dihapuskan dalam pelajaran SKI. Sebab bagaimanapun, hal itu merupakan sejarah dan fakta yang harus dipelajari dan diambil hikmahnya.

“Kalau dieliminir itu jangan, jangan dihilangkan. Sejarah adalah sejarah, fakta adalah fakta, bagaimana umat bisa mengambil i'tibar dari peristiwa sejarah itu sendiri,” tutur Kiai Abdullah saat berbincang dengan Republika,co.id pada Sabtu (21/9).

Menurut Kiai Abdullah semestinya para siswa diberikan materi tentang sejarah kebudayaan Islam secara utuh. Baik itu terkait peperangan, masa kejayaan maupun tentang tokoh-tokoh Islam.

Lebih dari itu menurutnya pentingnya peran guru dalam memberikan sudut pandang yang beragam pada siswa saat menyampaikan materi sejarah kebudayaan Islam terutama berkaitan dengan peristiwa perang. Dengan begitu, menurutnya wawasan keislaman siswa pun dapat lebih berkembang.

“Seharusnya memang diberikan secara utuh dan komperhensif, tidak dipilah-pilah. Bagaimanpun peristiwa perang juga sejarah,” katanya.

Wacana penghapusan materi perang dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam oleh Kementerian Agama (Kemenag) sempat menjadi polemik di dunia pendidikan.  Mengutip pernyataan Direktur Kurikulum Sarana Prasarana Kesiswaan dan Kelembagaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama, Ahmad Umar, bahwa hal ini dilakukan agar Islam tidak lagi dianggap sebagai agama yang radikal. Selain itu pemerintah ingin mendidik siswa menjadi orang-orang yang memiliki toleransi tinggi kepada penganut agama-agama lainnya.

Meskipun pernyataan ini telah direvisi oleh Kemenag yang menyatakan bahwa materi perang bukan dihapus, namun tidak dijadikan tonggak sejarah. Yang ditonjolkan nantinya adalah perjuangan-perjuangan Rasulullah dalam membawa Islam yang damai, Islam yang menyejukkan, Islam yang tidak keras.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA