Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Menjemput Rezeki

Rabu 14 Aug 2019 02:15 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Rezeki (ilustrasi).

Rezeki (ilustrasi).

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Tugas manusia yang beriman ialah menjemput rezeki dengan cara yang halal dan maksimal

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Agus Taufik Rahman     

Baca Juga

"Janganlah merasa bahwa rizkimu datangnya terlambat. Karena, sesungguhnya, tidaklah seorang hamba akan meninggal hingga telah datang kepadanya rizki terakhir yang telah ditentukan untuknya. Maka, tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram" (HR Al-Hakim).

Sering kali, manusia diliputi rasa gundah dan putus asa atas kepastian rizki yang akan diperolehnya. Apalagi, bila kondisi perekonomian kian terpuruk. Kenaikan harga sembako, maraknya PHK, sempitnya lapangan kerja, serta minimnya keahlian yang dimiliki seseorang. Itu menjadi momok yang menakutkan.

Di tengah kondisi krisis, umpamanya, seseorang hendaknya putus asa terhadap karunia Allah SWT. Itu jika yang bersangkutan mengimani hadis di atas.

Rasa putus asa dan kekhawatiran yang berlebihan justru akan lebih mempersulit terbukanya pintu rizki yang telah digariskan. Rasa yakin dan optimis mestinya terus dipupuk dalam hati akan datangnya rezeki dari Allah, serta diiringi usaha yang maksimal, halal, dan tawakal tentunya.

Dalam Alquran, Allah SWT memerintahkan hambanya untuk terus yakin dan optimis akan datangnya anugerah serta karunia-Nya. Dengan cara, menghempaskan jauh-jauh rasa putus asa dari dalam lubuk hati seorang Mukmin.

''... dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir" (QS Yusuf [12]: 87).

Tugas manusia adalah menjemput rezeki dengan berusaha dan berdoa sebaik-baiknya sesuai etika dan jalan yang dibenarkan Allah dan Rasul-Nya. Adapun, setelah itu, kita diperintahkan untuk menyerahkan segala hasil jerih payah kita sepenuhnya pada Allah SWT.

Mustahil bagi Allah SWT menyalahi janji-Nya kepada hambanya yang telah berusaha sekuat yang ia mampu. Sesungguhnya, seorang insan akan mendapatkan balasan selaras dengan usaha yang telah dikerahkan.

''Dan, katakanlah, bekerjalah kamu sekalian. Maka, Allah dan Rasul-Nya beserta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan kepada-Nya yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata. Lalu, diberikan-Nya kepada kamu apa yang kamu kerjakan" (QS Attaubah [9]: 105).

Jiwa pantang menyerah dan tidak putus asa adalah karakter seorang Muslim. Maka, maksimalkanlah segala kemampuan yang dimiliki untuk menjemput jatah yang telah ditetapkan. Karena, itu adalah ibadah.

sumber : Pusat Data Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA