Saturday, 16 Zulhijjah 1440 / 17 August 2019

Saturday, 16 Zulhijjah 1440 / 17 August 2019

Kekuatan Ekonomi dan Budaya Cordoba

Selasa 13 Aug 2019 06:08 WIB

Red: Agung Sasongko

Indahnya kota Cordoba dari tepi sungai Al-Wadi al-Kabir, yang dilafalkan orang Spanyol sebagai Guadalquivir.

Indahnya kota Cordoba dari tepi sungai Al-Wadi al-Kabir, yang dilafalkan orang Spanyol sebagai Guadalquivir.

Foto: Lonelyplanet.com
Cordoba menjadi salah satu emirat Umayyah pada abad pertengahan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Cordoba menjadi salah satu emirat Umayyah pada abad pertengahan. Abd ar-Rahman I berhasil menjadi emir Cordoba pada 756 setelah melepaskan diri dari kejaran orang-Orang Abbasiyah. Dengan niat memulihkan kembali kekuasaan yang pernah dimiliki Dinasti Umayyah, Abd ar-Rahman menaklukkan para penguasa Muslim Andalusia yang menentang Dinasti Umayyah. Abd ar-Rahman menyatukan kerajaan-kerajaan kecil ke dalam sebuah emirat.

Jika para penguasa Andalusia menggunakan gelar emir atau sultan hingga abad ke-10, Abd ar- Rahman III mengumumkan dirinya sebagai khalifah Cordoba, bukan emir Cordoba. Dr Syafii Antonio mengungkapkan, penggunaan gelar ini kemung kinan bertujuan untuk meraih simpati di dalam negeri guna menghadapi ancaman Dinasti Abbasiyah.

Kekhalifahan Cordoba berhasil mencapai kemakmuran hingga abad ke-10. Abd ar-Rahman III tak sekadar mampu menyatukan Andalusia, tapi juga menundukkan kerajaan-kerajaan Kristen di utara, baik melalui pertempuran maupun diplomasi. Perekonomian sangat maju pada masa Ke khalifahan Cordoba. Terutama di bidang perdagangan dan rampasan perang. Meski peperangan yang sering terjadi dengan kerajaan-kerajaan Kristen di utara memerlukan biaya yang besar, tetapi juga menghasilkan harta rampasan cukup banyak.

Pada tahun-tahun awal, Cordoba bahkan mendapat banyak penerimaan pajak atas jaminan keamanan. Perdagangan Muslim menghubungkan Andalusia dengan kawasan Mediterania dan sekitarnya. Selain itu, Kekhalifahan Cordoba juga merevitalisasi kawasan-kawasan industri seperti industri tekstil, keramik, kaca, logam, dan pertanian.

Pemerintah juga mulai mengenakan tarif terhadap perdagangan ekspor dan impor. Di samping itu, Cordoba mendapat pemasukan dari pajak (jizyah) yang dibayar kaum Yahudi dan Nasrani.

Di bidang pertanian, orang-orang Arab memperkenalkan beberapa tanaman baru. Contohnya beras, semangka, pisang, terung, dan gandum di Cordoba. Pertanian Andalusia pun menjadi maju karena didukung oleh sistem irigasi yang baik dan adanya kincir angin.

Cordoba juga menjadi pusat kebudayaan Andalusia. Para khalifah memberikan perhatian khusus pada pembangunan masjid-masjid. Salah satu masjid yang mendapat perhatian besar adalah Masjid Besar Cordoba (the Great Mosque) atau disebut juga Mezquita.

Cordoba pun menjadi pusat intelektual Eropa. Di Cordoba, terjadi penerjemahan teks-teks Yunani kuno ke dalam bahasa Arab, Latin, dan Ibrani. Pada masa ini, ilmu pengetahuan dan teknologi sangat dihargai. Para ahli di bidang sains, sejarah, geografi, filsafat, bahasa, dan berbagai cabang keilmuan muncul di Cordoba.

Pasta gigi, deodoran, hingga gaya busana dan tata rambut turut diperkenalkan Andalusia ke Eropa. Abu al-Hasan Ali bin Nafi atau Ziryab menjadi seorang seniman Muslim multitalenta yang mengenalkan dunia mode ke Benua Biru.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA