Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 Desember 2019

Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 Desember 2019

Keadilan Pemimpin

Selasa 18 Jun 2019 15:05 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Ilustrasi Mencari Pemimpin Umat

Ilustrasi Mencari Pemimpin Umat

Foto: Republika/ Yasin Habibi
Keadilan pemimpin ditunjang oleh jiwa tauhid yang hanya takut kepada Allah

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Misbah Rasyad Abdullah     

Baca Juga

Suatu ketika, Kaisar Romawi mengutus seseorang untuk mengetahui keadaan dan aktivitas keseharian amirul mu'minin Umar ibn al-Khattab r.a.

Setibanya di Madinah, sang utusan bertanya pada penduduk Madinah. ''Di mana Raja kalian bersinggasana?''

Dengan polos mereka menjawab, ''Kami tak punya raja, melainkan seorang amir, orang yang mengurus kami. Dia sekarang sedang melakukan inspeksi di pinggiran kota''.

Sang utusan kemudian mencari Umar ibn al Khattab menelusuri pinggiran kota.

Ia hampir tak percaya penglihatannya ketika secara kebetulan menemukan Umar tidur pulas kelelahan di terik matahari, beralas tanah dan berbantal tongkat. Keringat mengalir membasahi kedua pelipisnya.

Setelah agak lama terkesima, ia bergumam, ''Beginilah keadaan sosok manusia yang ditakuti para raja dan kaisar. Dia telah berlaku adil pada rakyatnya, akhirnya ia merasa aman sehingga dapat tidur pulas. Aku bersaksi atas kebenaran agamanya. Andai saja aku bukan utusan kaisar, niscaya aku menyatakan keislamanku sekarang juga. Sekarang aku harus melapor pada Kaisar untuk kemudian kembali ke sini menyatakan keislamanku.''

Kisah di atas menggambarkan bahwa keadilan adalah perisai yang ampuh melindungi penguasa sehingga jiwanya senantiasa merasakan keamanan dan kedamaian. Bersama keadilan ia tak pernah dihantui bayangan ketakutan dan ancaman yang merongrong kedudukannya. Ia tak lagi memerlukan pengawalan ketat.

Pemimpin yang adil adalah seorang yang mempunyai mentalitas pemimpin sejati. Baginya kekuasaan bukanlah kebanggaan atau jalan pintas menumpuk kekayaan. Kekuasaan adalah amanat rakyat yang harus dijalankan seadil-adilnya.

Tolok ukur keberhasilannya dalam mempimpin bukanlah sejauh mana ia mampu membangun, melainkan sejauh mana kemampuannya mendistribusikan hasil-hasil pembangunan secara adil pada seluruh rakyatnya.

Pemimpin yang adil memandang kekuasaaan sebagai amanat vertikal Ilahiyah yang merupakan perwujudan amanat khilafah (menata kehidupan di bumi). Katakanlah,

''Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang-orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang-orang yang Engkau kehendaki...'' (QS:3:26)

Amanat itu suci karena bersumber dari Allah SWT. Setiap kasak-kusuk menghalalkan segala cara meraihnya dan tindakan-tindakan kotor menjalankannya merupakan perbuatan keji yang harus dihindari.

Keyakinan tauhid yang kuat mampu melahirkan tekad untuk memperlakukan masyarakat dengan satu sikap yang sama. Untuk bersikap adil.

Semua masyarakat diberi kesempatan sama untuk mendapatkan hak-hak mereka. Tak ada sikap diskriminatif dan nepotisme. Ini tecermin dalam sikap tegas Nabi SAW ketika dengan lantang bersumpah: ''Demi Allah, kalau saja Fatimah anak Muhammad mencuri niscaya akan kupotong tangannya.''

sumber : Pusat Data Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA