Kamis 02 May 2019 14:24 WIB

Mengenal Maestro Arsitektur Tradisional Islam

Abdel Wahed el-Wakil adalah nama kondang dengan banyak karya memukau.

Pembangunan masjid   (ilustrasi).
Foto: dok. Republika/Aditya Pradana Putra
Pembangunan masjid (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Dalam dunia arsitektur Islam, Abdel Wahed el-Wakil adalah nama kondang dengan banyak karya memukau. El-Wakil adalah arsitek terkemuka asal Mesir yang dikenal berkat desain-desain masjidnya yang indah, baik di Mesir, Arab Saudi, maupun negara lain.

Karena keindahan rancangannya, pria kelahiran Kairo, 73 tahun silam, ini dianggap sebagai salah satu sosok kontemporer dalam arsitektur Islam. Mengenyam pendidikan pada sekolah Inggris di Mesir, el-Wakil berhasil lulus dari empat jurusan berbeda sekaligus, yaitu matematika, seni, fisika, dan kimia pada 1960.

Sementara, pendidikan arsitekturnya ia tempuh di Universitas Ain Shams, Mesir, dan mendapatkan gelar sarjana pada 1965. Beberapa saat setelah kelulusannya, el-Wakil diminta mengajar sebagai instruktur dan dosen di Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Ain Shams pada 1965 hingga 1970.

Pemikiran el-Wakil terhadap dunia arsitektur mengalami pergeseran besar setelah bertemu dengan arsitek Mesir legendaris, Prof Hassan Fathy (1900-1989). Fathy adalah arsitek terkemuka pada saat itu sekaligus orang pertama yang mengimpor alat-alat untuk pembangunan masjid di Mesir.

 

Bagi el-Wakil, arsitek kelahiran Alexandria itu merupakan sosok yang sangat menginspirasi. Hal itu karena perhatian Fathy yang besar terhadap lingkungan adat dan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat perdesaan.

Kedekatan el-Wakil dengan Fathy memberikan dampak yang besar bagi el-Wakil sendiri. Ia pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan aliran arsitektur gaya modernnya dan beralih mengikuti pemikiran Fathy yang dinilainya lebih inovatif. Sebelum memutuskan untuk magang dengan Fathy, el-Wakil telah merancang dan membangun tiga gedung apartemen bergaya modern.

Langkah yang diambil el-Wakil untuk mempelajari arsitektur tradisional pada saat itu bisa dibilang langkah yang cukup berani. Betapa tidak, saat itu gaya arsitektur modern sangat populer di kalangan para arsitek dan menjadi gaya arsitektur yang banyak diaplikasikan pada bangunan pemerintah dan perusahaan selama tiga dekade.

Sebaliknya, arsitek yang menekuni arsitektur gaya tradisional, seperti Fathy, tak lagi mendapatkan tempat di dunia arsitektur Mesir. Bahkan, salah satu perguruan tinggi terkemuka di Mesir, yakni Universitas Ain Shams, kala itu tidak menerima arsitektur gaya tradisional.

Fakta itu tak membuat el-Wakil mundur. Ia bahkan kemudian meninggalkan kariernya di Universitas Ain Shams dan fokus mempelajari arsitektur gaya tradisional bersama Fathy. Bersama sang mentor, el-Wakil mempelajari banyak hal, termasuk metode unik pada saat itu, yaitu membuat atap dari batu bata tanpa berpusat pada kubah. Cara ini digunakan untuk memangkas kebutuhan yang mengeluarkan ongkos mahal.

Setelah lima tahun magang dengan Fathy, el-Wakil pun diberi kesempatan untuk mendesain sebuah rumah di tepi Pantai Agamy, Mesir. Ini kesempatan besar bagi el-Wakil, tidak hanya untuk mengembangkan karier arsitekturnya, tetapi juga untuk menafsirkan kembali semua ilmu yang telah ia pelajari dari Fathy.

Krisis ekonomi yang dialami Mesir sepanjang 1967 membuat el-Wakil dapat mengaplikasikan ilmu yang ia dapatkan dari Fathy dengan sempurna. Akibat krisis ekonomi, industri bahan bangunan nyaris lumpuh. Akibatnya, ketersediaan bahan-bahan bangunan sangat minim.

Dalam kondisi sulit itu, berbekal ilmu dari Fathy, el-Wakil berhasil memaksimalkan penggunaan bahan-bahan bangunan alami dari daerah setempat. Berkat bahan-bahan bangunan alami itu pula, el-Wakil  berhasil menyelesaikan pembangunan Rumah Halawa yang berlokasi di Pantai Agamy, Mesir. Dibangun dengan batu kapur yang berasal dari daerah tersebut, Rumah Halawa menampilkan perpaduan gaya arsitektur Mesir dan Prancis.

sumber : Mozaik Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement