Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Apa Saja Delapan Pintu Rezeki?

Ahad 28 Apr 2019 07:00 WIB

Red: Hasanul Rizqa

(Ilustrasi) rezeki dapat datang dari arah yang tak disangka-sangka. Perbanyaklah berupaya. Kemudian, bersyukur kepada Allah SWT.

(Ilustrasi) rezeki dapat datang dari arah yang tak disangka-sangka. Perbanyaklah berupaya. Kemudian, bersyukur kepada Allah SWT.

Foto: alifmusic.net
Ada delapan pintu rezeki yang disebutkan dalam Alquran

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Allah SWT adalah satu-satunya Zat Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang. Dia memberikan rezeki kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Dia menyuruh umat manusia untuk banyak-banyak bersyukur, jangan kufur nikmat yang mana justru dapat mendatangkan murka-Nya.

Baca Juga

Dalam hidup ini, seseorang kadang diberikan kelapangan rezeki. Sebaliknya, terkadang rezeki dirasakan sempit, sehingga orang yang lemah hatinya kemudian berkeluh-kesah. Padahal, pintu-pintu rezeki amat luas.

Berikut ini adalah penjelasan Alquran tentang delapan pintu rezeki, sebagaimana dilansir dari lama resmi organisasi masyarakat (ormas) Persatuan Islam yang diakses Ahad (28/4).

 

Rezeki yang Telah Dijamin

Dalilnya adalah Alquran surah Hud ayat enam. Artinya, "Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." Sebagai contoh, seorang anak yatim piatu akan tetap hidup sampai besar, padahal orang tuanya telah tiada. Allah membuatnya bertemu dengan pihak panti asuhan atau keluarga lain yang bersedia mengurusnya.

 

Rezeki Hasil Usaha

Dalilnya adalah surah an-Najm ayat ke-39. Terjemahannya, "Dan bahwasannya seorang manusia tiada memeroleh selain apa yang telah diusahakannya." Misalnya, bangsa-bangsa yang maju di dunia hari ini karena keuletan pemerintah dan rakyatnya dalam berusaha. Bandingkan dengan bangsa-bangsa yang miskin karena pemerintah dan rakyatnya yang kurang berinisiatif, padahal tanahnya subur.

 

Rezeki karena Bersyukur

Alquran surah Ibrahim ayat tujuh menjelaskan hal itu. Artinya, "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." Misalnya, suatu negeri yang menerapkan syariat Islam secara utuh karena pemimpin dan rakyatnya bersyukur atas nikmat Allah. Selanjutnya, negeri itu menemukan ladang energi gas baru dengan kapasitas yang banyak.

 

Rezeki tak Terduga

Surah at-Thalaq ayat dua dan tiga telah menegaskannya. Terjemahannya, "Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." Misal, kondisi geografis Makkah dan Madinah cenderung gersang. Namun, siapa sangka pada abad modern ditemukan kandungan minyak yang begitu banyak di bawah tanah Arab Saudi, sehingga penduduk dua kota itu merasakan manfaat yang besar.

 

Rezeki karena Istighfar

Alquran surah Nuh ayat 10 dan 11 menjelaskan pentingnya memohon ampun kepada Allah. Terjemahannya, "Maka aku katakan kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Mahapengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat." Sebagai gambaran, yakni kaum Nabi Yunus. Mereka bertaubat kepada Allah, sehingga Dia mengaruniakan kepadanya kemakmuran berpuluh-puluh tahun lamanya.

 

Rezeki karena Menikah

Menikah tak sekadar sebagai jalan yang mulia untuk menyalurkan hasrat biologis. Menikah juga menyimpan hikmah bagi mereka yang berharap rezeki nan berkah. Surah an-Nur ayat ke-32 telah memaparkan hal itu.

Artinya, "Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu, baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Ambil contoh, pasca-hijrah dari Makkah ke Yastrib (Madinah), Abdurrahman bin Auf dalam beberapa waktu belum menikah. Setelah menikah, dia berangsur-angsur menjadi pedagang yang kaya raya lagi, seperti halnya sebelum hijrah.

 

Rezeki karena Anak

Anak-anak merupakan karunia Allah yang begitu besar. Keberadaan mereka juga dapat mendatangkan rezeki yang berkah. Karena itu, Alquran telah menegaskan larangan menolak hadirnya buah hati. Lihat surah al-Isra ayat ke-31. Artinya, "Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kami-lah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.” Sebagai contoh, Nabi Yakub waktu masih muda hijrah dari rumahnya. Dia pun menjadi pengembala kambing. Setelah menikah dan memiliki 12 orang anak, justru kambing-kambingnya makin bertambah banyak.

 

Rezeki karena Sedekah

Dalam surah al-Baqarah ayat ke-245, Allah berfirman. Artinya, "Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan." Sebagai misal, salah seorang sahabat yang mulia, Utsman bin Affan. Dia pernah berinfak dengan hartanya. Sampai kini, namanya tercatat sebagai pemilik warisan dan tabungan, bahkan terekam di salah satu bank syariah di Arab Saudi.

 

Demikianlah, hidup seorang Muslim hendaknya tak diliputi kekhawatiran dalam urusan rezeki. "Kalaulah anak Adam lari dari rezekinya, sebagaimana dia lari dari kematian, niscaya rezekinya itu akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya," itulah sabda Nabi Muhammad SAW.

sumber : Persatuan Islam (Persis)
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA