Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Ketika Perang Banjar Berkecamuk

Senin 25 Mar 2019 23:39 WIB

Red: Hasanul Rizqa

(Ilustrasi) Masjid Sultan Suriansyah Kerajaan Banjar

(Ilustrasi) Masjid Sultan Suriansyah Kerajaan Banjar

Foto: IST
Setelah Perang Banjar usai, Belanda mulai masuk dan merusak kesultanan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Inilah perang yang amat menentukan bagi jatuhnya Kalimantan Selatan di bawah kekuasaan kolonialisme Belanda. Sejak pertengahan abad ke-19, masyarakat dari pelbagai golongan di Kesultanan Banjar tidak menyukai campur tangan Belanda.

Baca Juga

Perjanjian pada 1826 memicu para tokoh Banjar untuk menyingkirkan perbedaan pendapat dan ambisi pribadi untuk bersama-sama mengusir penjajahan dari tanah air mereka. Perangai Belanda semakin tidak tahu adat setelah berambisi menguasai tambang batu bara di Riam Kiwa.

Pada zaman itu, Revolusi Industri di Eropa membuat pencarian akan bahan bakar begitu giat dilakukan. Pada 1845, antara Belanda dan Banjar disepakati perjanjian baru yang hasilnya menutup sama sekali akses kesultanan itu ke laut. Imbasnya tentu sangat melukai wibawa orang-orang Banjar yang sejak dahulu kala dikenal sebagai bangsa maritim.

Sultan Adam yang telah berkuasa sejak 1825 meninggal dunia pada 1 November 1857. Dalam surat wasiatnya, dia telah menetapkan penggantinya yakni cucunya, Hidayatullah II. Namun, Belanda campur tangan dengan peralihan kekuasaan ini. Pihak asing tersebut mengangkat Tamjidullah II sebagai sultan Banjar yang baru, sedangkan Hidayatullah II hanya diposisikan sebagai patih.

Tidak semua kalangan istana satu suara dengan Belanda. Nyai Ratu Kamala Sari, permaisuri almarhum Sultan Adam, Pangeran Antasari, dan para panglima Banjar, utamanya Demang Lehman bersepakat mendukung Hidayatullah II sebagai sultan resmi.

 

Friksi yang Menjalar

Di tengah rakyat dan kalangan alim ulama, Pangeran Hidayatullah II lebih berterima daripada Tamjidullah II yang dikenal sangat dekat pada Belanda. Oleh karena itu, perlawanan sang pangeran terhadap penjajahan asing dengan mudah meraih dukungan luas dari masyarakat.

Pada 18 April 1859, Pangeran Antasari menghimpun sebanyak 3.000 pasukan untuk menyerbu pos-pos pertahanan Belanda dan tambang batu bara milik pihak asing tersebut di Pengaron. Kejadian ini menandakan dimulainya Perang Banjar.

Dalam tiga tahun pertama, para pejuang Banjar berada di atas angin, sedangkan Belanda kerepotan menghadapi strategi gerilya mereka. Pada Mei 1859, Pangeran Antasari berhasil menduduki seluruh daerah Martapura. Adapun Pangeran Hidayatullah II menghuni basis pertahanan di Karang Intan, di luar Martapura.

Pada 28 Desember 1859, Pangeran Antasari dan Demang Lehman mengumpulkan laskar-laskar di Benteng Munggu Dayor, daerah pedalaman antara Sungkai dan Tambarangan. Dari sini, pasukan Banjar memakai strategi pertama-tama memata-matai pergerakan tentara Belanda. Mereka juga merekrut banyak pendukung dari tengah rakyat.

Pada saat yang sama, Pangeran Antasari juga menjalin komunikasi dengan para pangeran Kesultanan Kutai Kertanegara, yakni Nata Kusuma, Anom, dan Kerta. Melalui mereka, laskar-laskar Pangeran Antasari mendapatkan pasokan senjata api. Kolaborasi ini kelak terhenti ketika Kesultanan Kutai dikuasai Muhammad Sulaiman yang cenderung pro-Belanda.

Perang Banjar terdiri atas beberapa gelanggang pertempuran yang dinamakan sesuai lokasi terjadinya. Misalnya, Benteng Munggu Dayor, Benteng Tabanio, Keraton Bumi Selamat Martapura, dan Benteng Gunung Lawak. Kecuali persenjataan api yang datang secara selundupan, kebanyakan pejuang memakai senjata tradisional, seperti tombak, keris, pedang, dan tulup.

Sementara, Kompeni memiliki persenjataan yang lebih canggih, dengan daya jangkau yang lebih luas, semisal meriam dan senapan api. Selain itu, pihak Belanda juga menawarkan kepada siapa saja penduduk agar ikut memburu Pangeran Hidayatullah II dan Pangeran Antasari. Melalui selebaran pengumuman, kepala mereka berdua dihargai masing-masing 10 ribu gulden.

Situasi mulai kurang menguntungkan bagi para pejuang Banjar sejak September 1862. Belanda dapat merebut benteng-benteng pertahanan di Teluk Timpa, Basarang, dan Tumbang Muroi. Apalagi, sejak 3 Maret 1862 pihak Belanda dengan siasat licik memperdaya dan menangkap Sultan Hidayatullah II. Sang sultan kemudian dibuang ke Bali, Batavia, dan akhirnya Cianjur.

Meskipun Sultan Hidayatullah II telah tiada, Pangeran Antasari terus menggelorakan perlawanan rakyat Banjar terhadap bangsa asing itu. Untuk memperkuat pertahanan, Pangeran Antasari mendirikan tujuh unit benteng di Teweh. Sayang sekali, wabah cacar mulai menyebar di daerah tempat bertahannya.

Pada 11 Oktober 1862, Pangeran Antasari wafat akibat terimbas penyakit ini di Bayan Tegak. Dua tahun kemudian, Demang Lehman menyusul kepergiannya.

photo
Galangan Kapal VOC

 

Dominasi Belanda

Sejak saat itu, Belanda semakin leluasa menekan para pejuang Banjar. Pada 20 September 1868, pasukan Kompeni mulai merangsek ke basis-basis pertahanan Banjar. Di Den Carik, pertempuran berlangsung sengit sehingga pasukan Banjar terpaksa mundur teratur. Akan tetapi, resistensi tetap kuat di bawah pimpinan para tokoh Banjar yang tersisa, semisal Gusti Mat Seman, Gusti Acil, Gusti Muhammad Arsyad, dan Antung Durrahman.

Dalam beberapa kasus, pasukan Belanda mengalami kekalahan karena lengah, terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa kemenangan ada di pihaknya. Belanda tidak menyadari bahwa strategi gerilya dapat menyerang tiba-tiba. Dari sekian medan pertempuran yang dimenangkan pihak Banjar, banyak senjata api Belanda yang menjadi rampasan.

Karena pertempuran terus berlarut-larut, Batavia mengirimkan tambahan pasukan ke Kalimantan selatan. Mayor van Heemskerk, pemimpin militer Belanda dalam Perang Banjar, puas begitu mendapatkan bantuan dari pusat kolonial. Pada 25 Oktober 1869, Belanda mulai lebih gencar menggempur basis-basis pejuang Banjar.

Bagaimanapun, barulah pada 1905 Perang Banjar dapat dikatakan usai. Anak Pangeran Antasari, Muhammad Seman, gugur pada 24 Januari 1905. Sebelumnya, dia merupakan sultan Banjar di pelarian. Sejak saat itu, riwayat Kesultanan Banjar dapat dikatakan berakhir, yakni menjadi bagian dari wilayah birokrasi Hindia Belanda.

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA