Jumat 08 Mar 2019 22:20 WIB

Sejarah Keturunan Hadhrami, dari Yaman hingga Indonesia (5)

Sejarah keturunan Hadhrami tak lepas dari proses Islamisasi di Nusantara.

Peta rute perdagangan maritim di Samudra Hindia
Foto: tangkapan layar wikipedia
Peta rute perdagangan maritim di Samudra Hindia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jamaluddin al-Hussein lahir pada 1310 di pesisir barat India (Malabar) yang kala itu sedang dikuasai Kesultanan Delhi. Sosok tersebut kemudian berkelana dari Gujarat ke Campa (Indocina sekarang). Di antara anak-anaknya adalah Zainal Alam Barakat dan Nurul Alam.

Baca juga: Sejarah Keturunan Hadhrami, dari Yaman hingga Indonesia (4)

Baca Juga

Zainal Alam Barakat menurunkan Maulana Malik Ibrahim, yang ketika dewasa hijrah ke Gresik, Jawa Timur, sehingga lebih dikenal sebagai Sunan Gresik. Dialah yang secara luas diakui selaku Wali Songo pertama.

Sementara itu, Nurul Alam hijrah ke Mesir dan memeroleh seorang putra bernama Syarif Abdullah Umdatuddin. Anak Syarif Abdullah adalah Syarif Hidayatullah, yang saat dewasa bermigrasi ke Nusantara.

Di Jawa Barat, namanya masyhur sebagai Sunan Gunung Jati. Anak-anak Sunan Gresik kelak ada yang menjadi Wali Songo juga, yakni Raden Rahmat alias Sunan Ampel yang menurunkan Sunan Bonang dan Sunan Giri.

Sampai di sini, jelaslah pijakan argumentasi bahwa Islamisasi Nusantara lebih dahulu dirintis orang-orang keturunan Arab, bukan semata-mata pedagang/ulama Gujarat.

Di antara argumentasinya adalah, kalau Islam masuk pertama-tama dari Gujarat, maka mungkin mazhab yang dominan di Indonesia adalah Hanafi. Kenyataannya, mazhab Syafii-lah yang dominan di Tanah Air. Artinya, sama dengan yang di Hadramaut.

Yang berseberangan dengan pendapat ini adalah kalangan orientalis Belanda, termasuk Snouck Hurgronje (1857–1936). Saat menyampaikan kuliah di Universitas Leiden pada 1907, penulis disertasi Het Mekkaansche feest (“Perayaan Mekah”) itu menegaskan, koloni-koloni Arab tidak ditemukan di Jawa dan Sumatra sebelum abad ke-16. Maka dari itu, menurut Hurgronje, Islam dibawa ke Nusantara oleh para pedagang India (Gujarat), bukan Arab.

Sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya, Menemukan Sejarah, menyebut argumen Hurgronje dkk. sebagai teori Gujarat.

Ada tiga basis teori ini. Pertama, kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam Islamisasi Nusantara sebelum abad ke-13. Kedua, hubungan lama perniagaan antara Indonesia-India. Ketiga, bukti fisik berupa inskripsi tertua tentang Islam di Sumatra.

Ketiganya toh perlu dikritisi. Suryanegara mengutip penelitian JC van Leur yang termuat di Indonesia: Trade and Society. Dijelaskannya bahwa pada 674 sudah ada perkampungan Arab di pesisir barat Sumatra.

Komunitas tersebut bahkan telah mendirikan koloni di Kanton, pantai Laut Cina Selatan, sejak abad keempat. Dengan demikian, upaya pengenalan Islam di Nusantara sangat mungkin terjadi setidak-tidaknya sejak abad ketujuh oleh keturunan Arab.

Memang benar bila signifikansi awal mula dakwah di Indonesia patokannya pada abad ke-13. Sebab, pada kurun tersebut Samudra Pasai--yang disebut-sebut sebagai kerajaan Islam tertua di Indonesia--telah berdiri. Sementara itu, Gujarat berjaya sebagai pusat perniagaan internasional sekaligus sentra penyebaran Islam.

WF Stutterheim (1892-1942) meneliti nisan raja pertama Samudra Pasai, Sultan Malik as-Saleh, yang wafat pada 1297. Menurut arkeolog tersebut, nisan itu menampilkan ciri-ciri budaya Gujarat.

Akan tetapi, terang Suryanegara, berdirinya Samudra Pasai yang dipengaruhi budaya India-Islam tidak lantas menafikan fakta, sejak abad ke-13 pun sudah mulai ada perubahan rute maritim India-Cina. Yang tadinya melalui Selat Sunda berubah menjadi via Selat Malaka. Dengan kata lain, Samudra Pasai merupakan kelanjutan dari suatu proses yang telah berlangsung sejak jauh sebelumnya.

Bercermin dari hal itu, wajar bila beberapa pihak mengeluhkan maraknya pengajaran teori Gujarat di buku-buku sejarah nasional. Apalagi, ketika sumber-sumber yang dipakai berasal dari zaman kolonial.

sumber : Islam Digest Republika

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement