Kamis 14 Feb 2019 19:31 WIB

A Hassan: Guru Pak Natsir, Kawan Debat Bung Karno (9)

Perdebatan antara Hassan dan Sukarno berlanjut dalam korespondensi

sampul buku 'Di bawah bendera revolusi'
Foto: tangkapan layar goodreads.com
sampul buku 'Di bawah bendera revolusi'

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam artikelnya, “Apa Sebab Turki Memisah Agama dan Negara”, Sukarno mengkritik kemunduran Kekhilafahan Utsmaniyyah. Menurutnya, fenomena itu disebabkan pemerintah setempat mencampur-baurkan antara persoalan agama dan politik, sehingga menghalangi kemajuan rakyat.

Hal itu dibantah A Hassan, ulama Persatuan Islam (Persis). Menurut dia, surutnya pengaruh Islam di Turki boleh jadi karena pemerintah setempat menjadikan Islam hanya sebagai hiasan, tanpa sungguh-sungguh melaksanakan syariat agama tersebut.

Baca Juga

Perdebatan via media massa itu berlanjut dengan korespondensi ketika Sukarno dibuang oleh Belanda ke Ende, Flores (Nusa Tenggara Timur). Untuk diketahui, secara personal Hassan dan Sukarno menjalin persahabatan yang erat. Mereka saling peduli dan respek. Demikian halnya antara Natsir dan Sukarno.

Hal itu terbukti antara lain ketika pada 1930 Belanda menahan Sukarno di Penjara Sukamiskin, Bandung. Hassan sering menjenguknya; kadang kala ditemani Natsir. Barangkali, ada komunikasi antara Hassan dan Sukarno, sehingga kelak dalam autobiografinya—yang ditulis Cindy Adams—Sukarno mengatakan, “Di dalam penjaralah aku menjadi penganut Islam yang sebenarnya.

Penahanan Sukarno merupakan peristiwa yang menggemparkan kalangan nasionalis—baik itu kubu sekular maupun agama. Mereka kian meningkatkan perlawanan terhadap pemerintah kolonial.

Sukarno bebas pada Juli 1932. Namun, Belanda kembali menangkapnya pada Agustus 1933. Kali ini, Sukarno diasingan ke Ende. Dalam periode pengasingan itu, Sukarno gemar surat-menyurat dengan Hassan. Belakangan, hasil korespondensi itu dihimpun dalam “Surat-surat dari Endeh” pada buku Di Bawah Bendera Revolusi. Adapun polemik antara Hassan dan Sukarno, terutama ketika masih di Bandung, dibukukan menjadi Islam dan Kebangsaan.

Di Ende, Sukarno begitu antusias mempelajari Islam, bahkan mulai dari hal yang mendasar. Dalam sebuah suratnya kepada Hassan, dia meminta karya-karya ulama Persis itu agar dihadiahkan kepadanya. Melalui pos, sampailah apa-apa yang dimintanya dari Hassan ke Ende.

Dalam suratnya yang lain kepada Hassan, tertanggal 18 Agustus 1936, Sukarno mencurahkan kegelisahannya soal sikap jumud sebagian umat. “[…] Tetapi, apa yang kita ‘cutat’ dari Kalam Allah dan Sunnah Rasul itu? Bukan apinya, bukan nyalanya, bukan flame-nya, tetapi abunya ….”

Dalam suratnya untuk Hassan, Sukarno menyuarakan kekecewaannya terhadap orang-orang Islam yang “sontoloyo”, yakni yang hanya mementingkan aspek permukaan, alih-alih substansi, dalam beragama.

Setelah mempelajari kitab-kitab karya Hassan, Bung Karno kian mantap meyakini bahwa Islam tidak pernah membedakan harkat manusia. “Pengeramatan manusia adalah salah satu sebab yang mematahkan jiwanya suatu agama dan umat, oleh karena pengeramatan manusia itu melanggar Tauhid. Kalau tauhid rapuh, datanglah kebencanaan,” tulis Sukarno.

Baca: A Hassan: Guru Pak Natsir, Kawan Debat Bung Karno (8)

sumber : Islam Digest Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement