Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Palestina Butuh Uluran Tangan untuk 2.200 Ruang Kelas Baru

Kamis 14 Feb 2019 17:30 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah

Anak sekolah Palestina mengerjakan pekerjaan rumah dengan penerangan lilin jelang dimatikannya listrik di Gaza City, Maret 2012

Anak sekolah Palestina mengerjakan pekerjaan rumah dengan penerangan lilin jelang dimatikannya listrik di Gaza City, Maret 2012

Foto: AFP
Rata-rata bangunan sekolah di Palestina statusnya sewa dan bangunan tua.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Anak-anak Palestina membutuhkan 2.200 ruang kelas baru untuk kegiatan belajar dan mengajar. Penjajahan yang dilakukan Israel terhadap Palestina membuat anak-anak Palestina kesulitan mendapatkan pendidikan karena banyak bangunan kelas yang hancur.

Temuan ini disampaikan tiga lembaga filantropi yaitu Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, dan PKPU Human Initiative. Ketiga organisasi ini pun bekerjasama untuk membangun Sekolah Indonesia Palestina di Yerusalem untuk menampung 150 siswa.

President of PKPU Human Initiative, Tomy Hendrajati mengatakan, belum ada sekolah yang dibangun masyarakat Indonesia di Yerusalem. Tujuan Dompet Dhuafa, Rumah Zakat dan PKPU Human Initiative membangun sekolah di Yerusalem untuk menyediakan bangunan sekolah yang nyaman dengan fasilitas memadai. 

"Serta untuk menyediakan pendidikan dengan kurikulum Palestina dan menyediakan pendidikan inklusif untuk anak-anak Palestina," kata Tomy kepada Republika.co.id, Kamis (14/2).

Ia menjelaskan, rata-rata bangunan sekolah di Palestina statusnya sewa dan bangunan tua. Anak-anak Palestina juga tinggi angka putus sekolahnya serta minim jumlah sekolah inklusif.

Terkait kondisi dunia pendidikan di Palestina, ia menerangkan, gaji guru sangat minim dan 30 persen siswa tinggal terpisah dengan bangunan sekolah akibat tembok pembatas. Israel telah membangun tembok-tembok pembatas di sana.

"Jadi ada anak-anak yang tidak bisa pergi ke sekolah gara-gara terpisah oleh tembok yang dibangun pemerintah pendudukan (Israel) itu," ujarnya. 

Tomy juga menyampaikan, rata-rata sekolah yang ada di Palestina menggunakan kurikulum otoritas pendudukan. 52 persen sekolah di bawah kurikulum pendudukan Israel, 14 persen sekolah berdiri di tanah wakaf, dan 32 persen sekolah swasta. Kemudian 1,7 persen sekolah dibangun United Nations Relief and Works Agency (UNRWA).

Sekolah Indonesia Palestina akan dibangun dekat dengan Masjid al-Aqsha. Bangunan yang sudah ada akan direnovasi untuk dijadikan sekolah. Sehingga proses perizinannya tidak terlalu sulit. Sekolah tersebut untuk siswa yang normal dan berkebutuhan khusus.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA