Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Mengenal Tradisi dan Keunikan Pesantren (2)

Rabu 13 Feb 2019 14:26 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Ratusan santri berdoa meminta hujan di halaman pondok pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Jumat (26/10/2018).

Ratusan santri berdoa meminta hujan di halaman pondok pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Jumat (26/10/2018).

Foto: Antara/Prasetia Fauzani
Peran kiai begitu sentral di pesantren

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Membahas pesantren tak lepas dari adanya penghormatan terhadap seorang kiai yang kharismatik. Dadan Muttaqien dalam artikel “Sistem Pendidikan Pondok Pesantren” (1999) menjelaskan, umumnya berdirinya suatu pesantren diawali dengan adanya seorang ulama--di Jawa sering dijuluki kiai--yang menyebarkan agama.

Kiai tadi memiliki sejumlah pengikut (cantrik). Mereka setia mendampingi panutannya itu ke manapun pergi. Tempat tinggal sang kiai dan para cantriknya biasanya terletak di pinggiran desa atau hutan-hutan kecil.

Dari sang kiai, para cantrik menuntut ilmu-ilmu agama serta menyerap pelbagai nasihat, hikmah, dan keterampilan. Dari sebutan cantrik itu, muncul istilah dalam bahasa Jawa yakni santri.

Pada masa penjajahan Belanda, pesantren kian lekat dengan penghidupan kawula rakyat. Para santri dan kiai begitu menghayati bagaimana orang-orang yang tinggal di perdesaan hidup di bawah penindasan kolonialisme. Belanda menganggap sepele pendidikan yang diselenggarakan pesantren-pesantren. Sebab, basis tradisional Islam itu dianggapnya tidak selaras dengan kemajuan dunia.

Sebaliknya, pemerintah kolonial menganggap pendidikan di sekolah-sekolah formal yang dibentuknya lebih unggul. Terutama sejak awal abad ke-20, Belanda memberlakukan Politik Etis. Salah satunya, berdirilah macam-macam sekolah untuk Pribumi tertentu.

 

Pesantren pada Zaman Belanda

Data pemerintah Hindia Belanda menunjukkan, sebanyak 1.853 unit institusi pendidikan tradisional Islam terdapat di Pulau Jawa pada 1831. Dalam periode yang sama, jumlah muridnya diperkirakan sebanyak 16.556 orang.

Angka itu masih dapat diperdebatkan. Sebab, aparat waktu itu mencampurkan antara lembaga pendidikan dan pengajian biasa di masjid-masjid. Beberapa tahun kemudian, orientalis van den Berg (1845–1927) meneliti adanya 14.929 unit lembaga pendidikan Islam tradisional di Hindia Belanda pada 1885. Sebanyak 300 di antaranya adalah pesantren.

Baca juga: Mengenal Tradisi dan Keunikan Pesantren (1)

Tolak ukur yang dipakai penjajah tidak mampu menjelaskan signifikansi pesantren di tengah masyarakat Muslimin Nusantara. Para elite kolonial kurang sadar betul, para kiai tidak hanya menyelenggarakan pendidikan di pesantren. Lebih dari itu, pemuka Muslimin itu juga menghadirkan keteladanan, sehingga menjadi tempat bertanya orang-orang tentang agama dan kemasyarakatan.

photo
Diterangi cahaya lentera, santri Ponpes Baitul Mushofa semangat membaca Al Quran.

 

Corak Pendidikan Pesantren

Pendidikan pesantren berpola tradisional, tetapi tidak lantas meninggalkan kaidah berpikir ilmiah-modern. Bahkan, tradisi ilmiah akademis juga berlaku ketat di pesantren. Sebab, di dalamnya terdapat pola belajar yang memerhatikan sandaran (sanad), sehingga suatu transmisi keilmuan dapat dipastikan merujuk pada para ulama tabiin, sahabat, dan Rasulullah SAW sendiri.

Kitab-kitab yang diajarkan di pesantren dapat dipilah menjadi tiga, yakni materi utama (matan), komentar atas materi pokok itu (syarah), dan komentar atas syarah (khaisyiyah). Sementara, metode pembahasan kitab-kitab klasik umumnya tiga macam, yaitu sorogan, wetonan-bandongan, dan musyawarah.

Cara pertama berlangsung di mana seorang santri menyodorkan sebuah kitab di hadapan kiai. Selanjutnya, kiai tadi membacakan beberapa bagian dari kitab tersebut, sehingga si santri mengulangi bacaannya dengan bimbingan sang kiai.

Bagi mereka yang telah menguasai materi, maka pada kesempatan berikutnya diberikan materi baru. Mereka yang belum piawai, akan disuruh untuk mengulang-ulang materi yang sama.

Cara kedua lebih menyerupai ceramah. Di dalamnya, seorang kiai membaca sebuah kitab di hadapan sekelompok santri—biasanya sudah tingkat menengah. Mereka lalu menyimak kata-kata kiai tersebut. Di hadapannya, sang kiai membacakan, menerjemahkan, dan menjelaskan kalimat-kalimat tertentu--khususnya yang sukar dipahami--dari kitab yang sedang didaras. Metode ini disebut juga halaqah.

Cara ketiga berupa seminar dan biasanya diperuntukkan bagi para santri yang level tinggi. Metode ini menekankan keaktifan mereka. Para santri yang telah membaca banyak buku atau uraian-uraian pembahasan biasanya piawai dalam hal ini. Adapun sang kiai membimbing seperlunya.

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA