Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Etos Kerja Guru

Jumat 11 Jan 2019 05:05 WIB

Red: Agung Sasongko

Guru mengajar (ilustrasi)

Guru mengajar (ilustrasi)

Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Ada tiga ciri guru beretos kerja tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Asep Sapaat


Guru mulia keteladanan dan karya-karyanya. Karena, bukan hadiah yang turun dari langit, ke muliaan itu harus diraih dan diupayakan. Firman Allah SWT: "Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu dibe ritakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS at-Taubah: 150).

Ada guru yang bekerja sekadar menggugurkan ke wajiban. Masuk pagi pulang sore. Rutin kerja seolah sudah cukup. Hidup terjebak dalam kejumudan. Ciri guru tak punya etos kerja. Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk bersantai dan kurang produktif menghasilkan karya.

Seorang guru mestinya memiliki etos kerja yang ting gi. Detik demi detik waktu yang dilalui berbanding lurus dengan sejumlah karya nyata yang dihasilkan. Saat guru lelah, rehat sejenak. Setelah itu, bergegas kembali bekerja keras menyelesaikan urusan lainnya (QS asy- Syarh: 94).

Ada tiga ciri guru beretos kerja tinggi. Pertama, dia amanah menjalankan tugas dan kewajiban. Allah SWT berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) jangan lah kamu mengkhianati amanah yang diper ca yakan kepadamu, sedang kamu mengetahui." (QS al-Anfal: 27). Dalam hal mengajar dan mendidik, guru pandai menja ga titipan. Anak-anak adalah titipan yang harus diajar dan dididik dengan baik. Selain mendidik adab dan akhlak, guru pun memastikan anak dapat mudah memahami ilmu dan mampu mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan mereka.

Kedua, guru yang beretos kerja tinggi gigih dalam berjuang. Mesti banyak masalah, dia tak mengeluh atau putus harapan. Justru, dia akan berusaha menye le sai kan sebesar apa pun masalah yang dihadapinya. Karena semakin bermasalah kehidupan murid-murid, berarti semakin besar ladang kebaikan bagi guru beretos kerja tinggi. Kegigihan jadi cermin kesabaran untuk terus memperbaiki diri demi perubahan baik yang akan terjadi pada murid-murid. Firman Allah SWT: "Wahai kaumku!

Bekerjalah menurut keadaanmu sebagaimana aku bekerja. Nanti akan kamu ketahui, siapa yang mendapat akibat yang baik di kampung (akhirat). Sesungguhnya tiada menang orang-orang yang aniaya." (QS al-An'am: 135).

Ketiga, guru beretos kerja tinggi cenderung men jadikan akhirat sebagai tujuan. Guru yang lemah etos ker janya terlenakan oleh urusan dunia. Karena dunia menjadi tujuan, hidup selalu merasa serba kekurangan. Segala sesuatu ditakar dengan nilai uang. Berbeda dengan guru beretos kerja tinggi, mereka menjadikan akhirat sebagai tujuan.

Maka, hidup mereka akan dicukupkan oleh Allah SWT. Bicara urusan gaji dan rezeki berupa materi dicukupkan. Namun, bicara urusan kerja, tak ada kata cukup dan puas bagi para guru beretos kerja tinggi. Dengan cara berpikirnya yang demikian, guru beretos kerja tinggi tak pernah mengenal kata lelah dan menyerah untuk berkreativitas dan berinovasi. Bagi mereka, berlelah-lelahlah menjalani lakon hidup sebagai guru di dunia, istirahatnya kelak di kampung akhirat yang abadi. Wallahu a'lam bishawab.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA