Selasa 20 Nov 2018 21:49 WIB

Fenomena Hijrah Menyebar ke Berbagai Pelosok

Kebangkitan itu saat ini sudah menjamur ketika anak-anak muda mulai hijrah.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Dwi Murdaningsih
Para pengunjung bertepuk tangan dengan menggunakan bahasa isyarat saat komunitas tuli berada di atas panggung hijrah fest di  Jakarta Convention Center, Ahad (11/11).
Foto: Republika/Iman Firmansyah
Para pengunjung bertepuk tangan dengan menggunakan bahasa isyarat saat komunitas tuli berada di atas panggung hijrah fest di Jakarta Convention Center, Ahad (11/11).

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Kebangkitan generasi milenial Muslim memang tengah terjadi di berbagai penjuru Indonesia. Di DI Yogyakarta, fenomena itu tidak cuma terjadi di masjid-masjid besar, tapi sudah menjamur ke berbagai pelosok.

Sejumlah perhelatan tablig jadi bukti lapangannya, selain tentu kegiatan yang ada di masjid. Jogja Halal Fest atau Muslim United misalnya, telah menunjukkan keterlibatan anak-anak muda yang cukup besar. 
 
Untuk Jogja Halal Fest, hampir semua seminar-seminar yang dihadirkan diisi oleh anak-anak muda. Pengusaha, perancang busana, pebisnis, silih berganti memberi inspirasi kepada generasi muda lain.
 
Lalu ada Muslim United. Dari perhelatan itu, mulai panitia sampai masyarakat yang menghadirinya sebagian besar merupakan anak-anak muda. Persentasenya, malah diyakini lebih dari 80 persen.
 
Hal itu diamini Pengurus Media dan Terbitan DKM Masjid Jogokariyan, Ahmeda Aulia. Tahun lalu, remaja yang akrab disapa Edo itu bahkan sukses mengemban amanah sebagai Ketua Panitia Kampung Ramadhan Jogokariyan.
 
Padahal, bukan pemandangan lumrah anak-anak muda mendapat kepercayaan yang begitu besar. Terlebih, perhelatan itu sendiri cukup bersejarah, dan telah menjadi tradisi masyarakat DIY.
 
"Kebangkitan itu saat ini sudah menjamur ketika anak-anak muda mulai kembali atau mulai hijrah," kata Edo kepada Republika.co.id, Ahad (18/11).
 
Edo bahkan menjadi bagian dari panitia Muslim United. Ia mengatakan, panitia yang lebih dari 80 persen merupakan anak-anak muda merupakan gabungan dari beberapa elemen masjid di DIY.
 
Selain itu, Edo melihat fenomena serupa terjadi di perhelatan-perhelatan seperti Hijrah Festival di Jakarta. Ia melihat, perhelatan itu berhasil mengakomodir anak-anak muda, khususnya teman-teman yang hijrah.
 
"Jadi bukan hanya terjadi di masjid-masjid besar, kebangkitan itu sudah menjamur menjadi fenomena," ujar Edo.
 
Di Masjid Jogokariyan sendiri, kegiatan-kegiatan sudah begitu banyak yang memang dipercayakan kepada pengurus-pengurus muda. Bahkan, itu sudah bisa terlihat dari kepengurusan yang begitu banyak elemen muda.
 
Menurut Edo, banyak pula masjid-masjid di DIY yang mulai menumbuhkan kegiatan-kegiatan yang menarik elemen muda. Ia sempat pula menemui remaja-remaja masjid yang ingin mempelajari itu.
 
Utamanya, tentang bagaimana mewujudkan ketertarikan anak-anak muda ke masjid. Sehingga, anak-anak muda tidak cuma menjadi pelengkap atau perwakilan, tapi memang menjadi elemen penting dan bahkan elemen utama.
 
"Sekarang hijrah sudah menjadi gaya hidup, sudah banyak diganderungi teman-teman muda," ujar Edo.
 
 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement