Senin 06 Aug 2018 16:44 WIB

Yaman Destinasi Favorit Belajar Agama

Terdapat sekitar 1.800 mahasiswa Indonesia di Yaman

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko
Yaman
Foto: vk.com
Yaman

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Krisis yang melanda Yaman tak membuat para penimba ilmu menghindari negara berbentuk Republik ini. Meskipun saat ini situasi di Yaman masih dalam kondisi krisis politik, banyak mahasiswa asing yang tetap bertahan di negara ini untuk menimba ilmu. Di antaranya adalah warga Indonesia Faiz (39 tahun), mahasiswa Indonesia ini tengah menempuh studi magisternya di universitas swasta lokal di kota pelabuhan Mukalla.

Dia merupakan mahasiswa asing yang memilih tinggal di Yaman untuk mendalami Islam. "Saya merasa aman di sini, saya belajar di Provinsi Hadramaut karena itu adalah kota yang terkenal untuk menuntut ilmu bagi masyarakat Indonesia. Saya juga merasa ini menjadi rumah kedua saya," ujar dia dilansir dari gulfnews.com.

Terakhir kali dia mengunjungi Indonesia pada 1999. Faiz tetap bertahan di Yaman hing ga studi doktornya selesai. Saat ini mahasiswa Indonesia yang belajar di Yaman mencapai 1.800 orang. Mayoritas dari mereka menempuh pendidikan di Hadramaut.

Padahal, di saat yang sama tak sedikit penduduk lokal justru memilih berangkat ke luar negeri mencari ilmu. Ini tentu bertolak belakang dengan banyak pelajar asing datang ke negara yang dilanda kemiskinan ini sebagai tempat ideal mempelajari Islam.

Selama krisis baru-baru ini di Yaman, hanya beberapa siswa luar negeri yang meninggalkan negara itu. Mahasiswa asing yang khusus datang ke Yaman untuk studi agama tersebar di seluruh negeri. Mereka dapat mudah ditemukan antara lain di Iman University di Sana'a, Dar Al Hadeth di Sa'ada, dan lain-lain. Namun, Provinsi Hadra mout selatan mengambil bagian terbesar dari mahasiswa asing.

Tarem, sebuah kota kecil di tengah lembah Hadramaut yang panjang, telah dikenal selama berabad-abad sebagai pusat bagi para Sufi. Pendiri sekolah Sufi di Hadramaut dengan bangga mengatakan, kakek mereka memainkan peran besar dalam menyebarkan Islam di Asia dan Afrika.

Ulama yang menyebarkan Islam dan pedagang Hadrami berinteraksi dengan komunitas masyarakat setempat dan me yakin kan jutaan orang untuk memeluk Islam. Penduduk lokal di Tarem mengklaim, keturunan Rasulullah SAW banyak yang ber hijrah ke Yaman, terutama Tarem. Alasan ini menjelaskan mengapa kota ini di penuhi ratusan pelajar Islam dari ber bagai negara.

"Saya percaya siswa dari negara-negara Barat lebih suka belajar di Tarem karena ketenangan spiritual yang menjadi ciri khas daerah ini," kata Walead Mosaad, mahasiswa Amerika yang belajar di Tarem. Sebagian besar dari kita berasal dari kota-kota besar yang ramai dan tak lagi bisa kita mengasingkan diri dari kehidupan modern di dalamnya," jelas dia.

Selain itu, para sarjana dari Tarem memiliki rantai autentik dalam mempelajari Islam langsung dari Nabi Muhammad SAW dan dengan setia mencerminkan ajarannya tanpa campur tangan dari ideologi ekstremis dan agenda politik.

Sistem pendidikan yang diterapkan bagi mahasiswa asing memiliki ketentuan tersendiri. Salah satunya kelas persiapan bahasa Arab. Kelas ini diperuntukkan sebagai ajang melatih kemampuan berbahasa Arab agar siswa baru mampu beradaptasi dengan para senior mereka.

"Ajaran utama di sini berkisar pada tiga tema, pengetahuan mencakup Quran, hadis, pemurnian spiritual, dan dawa (pemahaman tentang keterlibatan dan penyebaran ajaran Islam)," kata Walead.

"Ada sekolah yang dikelola bersaudara dekat Dar al-Mustafa yang disebut Dar al- Zahra yang secara eksklusif mengajarkan siswa perempuan," kata dia.

Moderat

Di Tarem, ada banyak lembaga Islam yang mengikuti metode pengajaran tradisional melalui komunitas dan pengajian. Sebut saja di antaranya Dar al-Mustafa, Ribat Tarem, dan perguruan tinggi Syariah ada lah tempat utama yang menarik mahasiswa asing.

Setelah lulus dari sekolah Tarem, Walead berpendapat, aliran pemikiran Hadramaut yang kental nuansa sufistiknya adalah contoh ajaran normatif Islam yang memiliki kemiripan dengan sistem dan pendidikan al-Azhar Mesir, Qarawiyyin di Maroko, dan masjid Umayyah serta pusat-pusat kajian ilmu tradisional di Suriah.

"Kami percaya bahwa sekolah Had ramaut serta sekolah-sekolah yang disebutkan di atas mencerminkan pemahaman autentik ajaran Nabi Muhammad (SAW), dan karenanya, sepenuhnya tidak sesuai dengan ideologi ekstremis," kata Walead.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement