Kamis 13 Jul 2017 21:49 WIB

Halaqah Nasional Alim Ulama untuk Merespon Gerakan Islam Radikal

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Agung Sasongko
Mencegah Paham Radikal.  (ilustrasi)
Foto: Republika/ Tahta Aidilla
Mencegah Paham Radikal. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) menggelar acara Halaqah Nasional Alim Ulama se-Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta pada 13-14 Juli 2017. Halaqah Nasional tersebut mengusung tema Memperkokoh Landasan Keislaman Nasionalisme Indonesia.

"Halaqah Nasional ini (digelar) sebagai respon atas munculnya gerakan-gerakan Islam radikal yang saat ini mengkhawatirkan," kata Sekretaris Jendral Presidium Nasional MDHW, Hery Haryanto Azumy kepada Republika, Kamis (13/7).

Ia mengatakan, Halaqah Nasional Alim Ulama diharapkan dapat menjadi sarana bagi para ulama dan kiai untuk kembali menegaskan bahwa mencintai tanah air sebagai bagian dari iman. Hal ini juga pernah digaungkan KH Hasyim Asy'ari dalam revolusi jihadnya.

Ia menerangkan, diharapkan Halaqah Nasional dapat menjadi langkah awal menggelar dialog kebangsaan. Untuk mencari solusi dari berbagai persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia. Halaqah Nasional juga tidak lepas dari niat untuk menyatukan aliansi strategis antara elemen Islam dan nasionalisme.

"Dengan bersatunya dua elemen itu, semoga mampu melawan paham kelompok radikal yang sudah mengancam kesatuan bangsa Indonesia," ujarnya.

Halaqah Nasional Alim Ulama se-Indonesia dihadiri alim ulama dari berbagai daerah di Indonesia, Mantan Presiden RI Megawati Soekarno Putri, Kepala BIN Jenderal Polisi Budi Gunawan, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj dan Ketua Umum MUI KH Ma'ruf Amin. Rencananya, Presiden RI, Joko Widodo juga akan hadir dalam Halaqah Nasional ini.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement