Rabu 21 Feb 2018 20:37 WIB

Jokowi Sebut Ulama Sebagai Penyalur Suara Masyarakat

Jokowi kerap membutuhkan masukan dari ulama untuk menjalankan pemerintahan.

Rep: Debbie Sutrisno/ Red: Ratna Puspita
Presiden Joko Widodo memberikan sambutan ketika membuka Zikir Kebangsaan dan Rakernas I Majelis Zikir Hubbul Wathon di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (21/2).
Foto: Antara/Wahyu Putro A
Presiden Joko Widodo memberikan sambutan ketika membuka Zikir Kebangsaan dan Rakernas I Majelis Zikir Hubbul Wathon di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (21/2).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo menghadiri rapat kerja nasional (rakernas) I Majelis Dzikir Hubbul Wathon di Asrama Haji, Jakarta Timur, Rabu (21/2). Dalam kesempatan ini Joko Widodo (Jokowi), menegaskan, dia kerap membutuhkan masukan dari para alim ulama untuk menjalankan pemerintahan.

"Selain ilmu agama, tentu saja bisa memandu kami pemerintah. Karena bagi saya ulama juga penyalur suara dari masyarakat, umat, dan Ponpes (pondok pesantren) di seluruh Tanah Air," kata Jokowi.

Di sisi lain, Jokowi meminta para ulama khususnya yang termasuk dalam majelis ini agar ikut serta menjabarkan setiap program pemerintah yang telah dan akan dilaksanakan.  Selain permintaan ini, mantan Gubernur DKI Jakarta ini barharap agar para ulama bisa mengajak masyarakat membangun kedamaian dan kesejukan, terutama di daerah yang akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah (pilkada) baik bupati, wali kota, dan gubernur. 

Dia mengatakan, jangan sampai masyarakat mencemooh, saling menebar kebencian dan berita bohong, atau tindakan lain yang tidak diperbolehkan oleh agama media melalui sosialnya.  Dalam pesta demokrasi lima tahunan ini, Jokowi berpesan agar pilkada tidak mengorbankan persatuan dan persaudaraan yang telah dijalin di Indonesia. 

Menurut dia, pilkada seharusnya bisa berperan dalam membangun negara ini. "Jagalah ukhuwah Islamiah, watoniah kita. Kita harus bersama membangun negara tercinta ini," ujarnya.

photo
Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) didampingi Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (ketiga kanan) Ketua DPD Oesman Sapta (ketiga kanan belakang), Ketua Dewan Pembina Majelis Dzikir Hubbul Wathon KH Ma'ruf Amin (kiri), Tokoh NU, KH Maimun Zubair dan Ketua Umum PPP Romahurmuziy berdoa ketika menghadiri Zikir Kebangsaan dan Rakernas I Majelis DZikir Hubbul Wathon di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (21/2). (ANTARA/Wahyu A Putro)

Ketua Umum Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) KH Mustofa Aqil Siroj menyinggung tentang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada 2018 yang akan berlangsung di sejumlah daerah yang ada di Indonesia. Dia menuturkan, biasanya tahun politik akan membuat kondisi masyarakat gaduh, ruwet, dan macam-macam. 

Untuk itu, dia mengimbau agar menjadikan tahun politik sebagai tahun yang damai dengan memperkuat dzikir kepada Allah SWT. Menurut Pengasuh Pesantren KHAS Kempek, Cirebon ini, perbedaan merupakan hal yang biasa, tetapi persatuan dan kesatuan adalah lebih utama. 

"Pakaian boleh beda, pilihan boleh tidak sama, tapi ingat, kita adalah satu: Indonesia," katanya saat menyampaikan sambutan pada pembukaan Rakernas I.

Menurutnya, majelis ini bukan hanya menjadi jembatan kebuntuan antaranak bangsa, tetapi juga menjadi gerakan yang turut serta menyelesaikan masalah sosial. Pada forum yang mengusung tema "Komitmen Islam Kebangsaan Menuju Orde Nasional" majelis Dzikir Hubbul Wathon membahas empat hal, yaitu zikir, halaqah, sosial, dan ekonomi.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement