Jumat 09 Jun 2017 15:00 WIB

Melongok Islam di Bardabos

Suasana Kota Bridgetown, Barbados, dari udara.
Foto: wikipedia
Suasana Kota Bridgetown, Barbados, dari udara.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Berada jauh di Samudra Atlantik, Pu lau Barbados telah mencatat sejarah dalam dunia Islam. Negara yang dijuluki ‘Inggris Kecil’ atau ‘Little England’ ini menjadi salah satu tonggak kebangkitan Islam di wilayah Karibia.

Saat ini, terdapat sekitar 4.000 Muslim tinggal di Barbados. Mereka kebanyakan adalah imigran atau ketururan imigran dari Gujarat, Guyana, Trinidad, Asia Tenggara, dan Timur Tengah. Sementara, sekitar 200 orang adalah orang asli Barbados atau Bajan.

Sejarah mencatat, Islam pertama kali sampai di Barbados lebih dari 90 tahun lalu ketika Abdul Rohul Amin, penjual sutra dari Bengal, India, datang di negara pulau ini pada 1913. Setelah itu, makin banyak orang dari Bengal yang datang ke negara tersebut dan berbagi sebuah rumah di Wellington Street.

Beberapa dari mereka juga tinggal di Pasar Susu dan Jalan Tudor di atas toko sepatu Bata di Bridgetown, Ibu Kota Barbados. Banyak orang Bengal yang kemudian menikah dengan perempuan Barbados dan membangun keluarga di Bridgetown.

Orang-orang Muslim ini kemudian mulai berkeliling melakukan perdagangan ke segala penjuru Barbados hingga saat ini. Pada awalnya, perdagangan dilakukan dengan warga Barbados miskin yang tinggal di bagian negara yang sulit dijangkau. Mereka ti dak mampu berbelanja ke kota. Untuk sampai ke tempat-tempat terpencil itu, mereka tak keberatan menumpang bus.

Jika tidak ada bus saat itu maka mereka dengan senang hati berjalan dengan jarak yang sangat jauh hanya untuk mengakomodasi para pelanggannya. Saat itu, banyak orang Barbados yang tidak mampu membayar barang-barang tersebut dengan tunai.

Saat itulah, para pedagang dari Bengal ini mulai memperkenalkan sistem pembayaran secara kredit. Selama bertahun tahun, para pedagang ini membangun hubungan yang saling menguntungkan dengan orang-orang Bajan.

Mengikuti jejak orang-orang Bengal, kaum Muslim dari Gujarat akhirnya tiba juga di Barbados pada 1929. Mereka seharusnya datang ke Brasil untuk memotong kayu, namun malah ‘terdampar’ di Guyana yang bertetangga dengan Barbados. Awalnya, Muslim Guja rat hanya mengunjungi Barbados selama beberapa waktu untuk menjual batu bara. Lama- kelamaan, mereka pun memu tuskan untuk menjadikan Bar bados sebagai tempat tinggal.

Kebanyakan mereka juga tinggal di Jalan Tudor dan Pasar Susu. Setelah itu, makin banyak Muslim Gujarat yang datang dan tinggal di berbagai tempat di Barbados. Mereka berkeliling menjajakan dagangan dan umumnya sangat sukses.

Tak heran jika banyak dari mereka yang bisa membeli rumah di kota. Beberapa di antara mereka bekerja sama membangun toko di Jalan Swan dan Tudor. Muslim dari negeri tetangga, seperti Trinidad dan Gu yana, tak sedikit pula yang berimigrasi ke Barbados dan tinggal di Bridgetown serta membangun komunitas sendiri.

Saat ini, anak, cucu, dan cicit dari Muslim pertama yang tinggal di Bridgetown terlibat dalam ham pir semua aspek kehidupan masyarakat Bajan. Mereka memberikan kontribusi yang sig ni fikan dalam membangun Brid getwon dan Barbados secara keseluruhan. Mereka menjadi dok ter, pengacara, insinyur, dan PNS yang sukses.

Tempat ibadah pertama bagi kaum Muslimin di Barbados di diri kan Kensington New Road, Bridgetown, pada 1950. Tempat ibadah kedua didirikan di Sobers Lane pada 1957. Dua mas jid lainnya juga dibangun di Bridgetown. Masjid-masjid tersebut mengumandangkan azan lima waktu ke sepenjuru negeri dan setiap pekan menghelat kajian Alquran dan hadis. Di masjid pula, anak-anak Muslim sejak umur empat tahun diajarkan membaca Alquran dan mempraktikkan sunah Rasul.

Disarikan dari Islam Digest Republika

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement