REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dengan keimanan dan baiat yang dilakukannya kepada Rasulullah SAW, Ummu Ammarah pun pulang kembali ke Madinah dan mengajak suami serta kedua anaknya, Habib dan Abdullah, untuk memeluk agama Islam. Masa pun berlalu. Dakwah yang dilakukan Rasulullah SAW sudah dilakukan terang-terangan dan sudah hijrah ke Madinah.
Hingga akhirnya turun ayat yang memerintahkan untuk memerangi kaum Quraisy.Di Perang Uhud, pada awalnya, Ummu Ammarah membantu Muslimin dalam menyediakan air dan obat-obatan. Namun, kemenangan yang sudah di depan mata langsung sirna lantaran sejumlah pasukan Muslim tidak mematuhi perintah Rasulullah SAW. Posisi Rasulullah pun terdesak.
Menyadari hal ini, Ummu Ammarah pun ditemani suaminya, Ghaziyah bin Amr, dan kedua anaknya langsung melindungi Rasulullah SAW dari serangkaian serangan musuh.Diriwayatkan dari Ibnu Hisyam dari Ummu Sa'ad, ''Aku menemui Nusaibah dan berkata, 'Wahai bibiku, beri tahu tentang peristiwa di Uhud.' Dia berkata, 'Kami pergi bersama Rasulullah ke medan Uhud dan aku membawa kantung air. Lalu, kami berperang hingga Muslimin mendapatkan kemenangan. Tapi, tidak beberapa lama kami mendapatkan serangan yang membuat sebagian kami meninggalkan perang dan Rasulullah SAW. Aku terus berperang melindungi Rasulullah dengan pedang dan panah, sampai tidak aku sadari tubuhku sudah terluka.'
Kemudian, Ummu Sa'ad melihat luka di tubuh Ummu Ammarah, yaitu luka yang cukup parah di bagian lehernya.''Di Perang Uhud, Ummu Ammarah disebut mengalami 11 luka yang cukup parah. Bahkan, pernah dalam satu peperangan, Ummu Ammarah sempat tidak sadarkan diri. Perkataan pertama yang keluar dari mulutnya saat dia sadarkan diri adalah "Di mana Rasulullah? Apa yang dilakukan kaum kafir terhadap dirinya?"
Para sahabat pun menjawab, "Rasulullah selamat dan sebentar lagi akan menemuimu. Apakah kamu tidak sadar, lukamu cukup parah, tapi mengapa kamu masih bertanya soal kondisi Rasulullah, bukan anak-anakmu?" Ummu Ummarah pun menjawab, "Mereka bukan Nabi Muhammad. Mereka bukan pembawa risalah Islam. Sesungguhnya aku berperang karenanya dan siap mati untuknya (risalah Islam)."Atas kegigihan ini, Rasulullah pun sempat mendoakan kepada Ummu Ammarah dan keluarganya untuk menjadi pendamping Rasulullah di surga.
Pada saat itu, Rasulullah SAW melihat luka yang cukup parah di tubuh Ummu Ammarah. Dia pun meminta kepada Rasulullah SAW untuk mendoakannya sebagai pendampingnya di surga. Rasul menjawab, ''Ya Allah, jadikan mereka pendampingku di surga." Ummu Ammarah pun berkata, ''Sekarang aku sudah tidak takut lagi dengan musibah-musibah di dunia.''




