REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menjelang Perang Badar, kaum Muslim tidak merasa gentar sedikitpun meskipun mereka tahu bahwa kaum kafir dari Makkah datang membawa pasukan yang jauh lebih besar dibanding pasukan Muslim dan perlengkapan perang yang lebih sempurna.
Kaum Muslim bersiap-siap menghadapi peperangan dengan hati dipenuhi keimanan serta cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
Salah seorang sahabat, Auf bin Al-Harits, bertanya kepada Rasulullah sebelum perang berkecamuk, "Wahai Rasulullah, apakah perbuatan seorang hamba yang akan membuat Tuhan tersenyum?"
Maksudnya, perbuatan apakah yang paling disukai Allah sehingga Dia tersenyum saat seorang hamba melakukannya?
Rasulullah menjawab, "Jika seorang hamba menyerang musuh tanpa tameng pelindung (perisai dan baju perang).”
Mendengar jawaban Rasulullah SAW, Auf langsung melepaskan baju zirahnya dan membuangnya jauh-jauh. Kemudian, dia menghunus pedangnya dan terjun ke medan perang tanpa pelindung.
Dia berperang dengan keberanian luar biasa. Allah pun mengabulkan cita-citanya untuk mati syahid dalam keadaan tanpa baju perang. Dia gugur setelah membunuh sekian banyak orang musyrik.
Dikisahkan dalam buku 115 Kisah Menakjubkan dalam Kehidupan Rasulullah SAW yang ditulis Fuad Abdurahman, dalam setiap peperangan, kaum Muslim berlomba-lomba meraih kesyahidan.




