Sabtu 06 Aug 2016 11:26 WIB

Nafsu Kuasa, Sok Jaim, dan Rasa Menjadi Hebat

Narsis/ilustrasi
Foto: ryanreed.me
Narsis/ilustrasi

Nafsu Kuasa, Sok Jaim, dan Rasa Menjadi Hebat

Oleh: Eri Sudewo, Pendiri Dompet Duafa

Astaghfirullah. Baru pukul 08-an Jumat pagi kemarin, 5 Agus’16, saya sudah kelelahan. Di kursi sy terhenyak. Banyak betul soal yang simpang siur di hp.

Bukan mereka hendak konsultasi, bukan. Mereka jutru protes. Saya dibilang cuma jaga imej (jaim) doang. Maunya disapa lebih dulu. Maunya dikunjungi, ogah silaturahim.

Selagi mengurut-urut kening, tiba-tiba hand phone (Hp) berbunyi. “Mas, kenalkan saya Bara. Sekum TDA”, sapa di seberang.

“TDA, Tangan Di Atas?” tanya saya menegaskan .

“Kami pengurus baru ingin silaturahim, Mas. Jika bada Jumat, hari ini ada waktukah? Mohon maaf langsung nodong, nih!” Seru Bara sambil terkekeh.

Sssshhh… Pening saya langsung raib. Ini bukan puncuk dicinta ulam tiba. Namanya rezeki tak salah alamat. Tiba-tiba saja numplek, tanpa dinyana selintas pun.

Tanpa chek jadwal, saya sudah berucap siaaap. Segera ruang kerja sekaligus tempat terima kunjungan dirapih-rapihinin. Sapu bergerak. Apa boleh buat, tanpa lap basah, kemoceng menari2. Padahal kemoceng tak selesaikan masalah. Cuma pindahkan debu ke tempat lain.

Deretan buku pun ditata-tata. Buku yang hebat-hebat dipajang agar 'eye catching'. Tujuan simple aja. Pancing2 kekaguman mereka. Ternyata tuan rumah, ya begicuuu laaaah. Hehehe…. Pingin dikatakan, cerdaaas.

Sudah jadi kebiasaan. Pas ada yg mau datang, ruangan jadi agak rapih. Tak ada kunjungan, tradisi berlanjut. “Sekali berantakan, berantakan sekaliii”.

Saya tengok hp. Segera saya kecup. Sebelumnya nyaris pecah dibanting. Jika orang rumah tak protes, tiap bulan beli hp. Kaleee…

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement