Rabu 13 Apr 2016 06:47 WIB

Butuh Standardisasi dalam Pelajaran Agama Islam

Guru Agama Islam (Ilustrasi)
Foto: Antara
Guru Agama Islam (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Zubair menilai perlu ada standardisasi materi pelajaran agama Islam yang didasarkan pada ajaran Islam yang benar.  Standardisasi itu akan menjadi pegangan bahwa Islam tidak dibatasi oleh panafsiran tertentu yang justru lebih tertutup dan tidak toleran.

"Selama ini monitor negara ke lembaga pendidikan lebih fokus ke masalah administrasi saja, tapi kurang melihat substansi materi yang diajarkan. Jadi harus ada akreditasi dalam pengajaran agama Islam," kata Zubair di Jakarta, Selasa (13/4).

Menurut Zubair, standardisasi materi pelajaran agama Islam diperlukan untuk meluruskan sekaligus mencegah penyebarluasan ajaran yang keliru di kalangan pelajar yang menumbuhsuburkan radikalisme.

"Saya rasa pencegahan lebih penting dalam membendung masuknya paham radikal terorisme daripada kita kecolongan," kata Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerja sama UIN Syarif Hidayatullah itu.

Ia menegaskan bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih sayang dan rahmat, bukan agama yang mengajarkan kekerasan. Apalagi menyakiti dan membunuh. Islam juga tidak pernah memaksa-maksa orang untuk mengikutinya.

"Itu beda sekali dengan para pelaku terorisme yang selalu memaksa orang lain untuk mengikuti paham mereka. Ironisnya, mereka mengaku Islam, tapi paham Islam hanya sepotong-sepotong dan tidak melihat bahwa Islam itu agama yang rahmatan lil alamin," katanya.

Zubair mengakui bahwa terdapat banyak mazhab dalam Islam, tapi antarmazhab itu seragam tentang tujuan dan cita-cita Islam, yakni sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Meski demikian, menurut Zubair, radikalisme dan terorisme tidak hanya disebabkan pemahaman agama Islam yang sepotong- sepotong. Namun juga karena faktor ekonomi, sosial, psikologi, dan lainnya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement