Kamis 17 Mar 2016 08:00 WIB

Muslim Jamaika Dituduh ISIS karena Pakaian

Rep: MGROL57/ Red: Agung Sasongko
Muslimah di Jamaika
Foto: caribbeanmuslims.com
Muslimah di Jamaika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Beberapa Muslim Jamaika mengeluhkan perlakuan berbeda. Dilansir dari Jamaica Gleaner, Senin (14/3), para Muslim tersebut mengalami diskriminasi di perbatasan internasional karena cara mereka berpakaian.

Beberapa staf imigrasi di negara-negara tertentu terus mengaitkan Islam dengan tindakan kelompok ekstremis, seperti ISIS. "Mereka takut kami memiliki sesuatu di bawah pakaian kami," cerita salah seorang anggota Dewan Islam Jamaika, Marufah Tijani.

"Ketika mereka melihat pakaian kami, mereka bertanya-tanya apakah ada sesuatu di dalam pakaian kami yang dapat menyebabkan ledakan. Ketika mereka melihat kami, mereka bertanya apakah kami ISIS, dan apa kami ingin meledakan tempat itu," tambahnya.

Tijani, bercerita dalam acara Pekan Kesadaran Islam, banyak Muslim yang dihadapkan dengan kecurigaan teroris semacam itu. Ia mengutip beberapa pengalamannya dan rekan-rekan sesama Muslim ketika berada di Bandara Internasional Miami dan Bandara Internasional John F Kennedy, Amerika Serikat. Melalui pengalamannya, ia memperlihatkan bahwa keluhan para Muslim tersebut memang benar adanya.

Saat berada di bandara, sering kali mereka dibawa ke pinggir dan memeriksa lebih jauh dari prosedur yang semestinya. Ketika sampai di bagian imigrasi, lagi-lagi mereka dipisahkan dan ingin memeriksa hingga ke dalam pakaian. Bahkan, Tijani pernah diminta untuk melepaskan hijabnya. Namun, saat itu Tijani menolak dengan tegas.

Menurut Tijani, di Jamaika lebih sedikit tindakan diskriminasi tersebut terjadi. Para petugas imigrasi melihat pakaian yang biasa dikenakan Muslim sebagai pakaian "Afrika" dan memperlakukan mereka dengan sopan. "Semua itu adalah jenis-jenis perlakuan yang kami terima ketika bepergian," lanjutnya. Sementara di Jamaika, Tijani melihat tidak semua orang berpikir Muslim mengikuti ajaran-ajaran kejam, seperti ISIS.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement