REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penerapan model filantropi Islam di berbagai negara memiliki kekhasan kultur masyarakat maupun sistem pemerintahannya.
“Oleh karena itu, dibutuhkan pemaparan dan diskusi untuk memperkaya pandangan dalam penghimpunan hingga pengelolaan dana ummat ini,” kata Direktur Indonesia Magnificent of Zakat (IMZ) Kushardanta Susilabudi, Selasa (3/2).
Penyelenggara Konferensi Filantropi Islam Asia-Afrika ke-3 ini mencontohkan, International Islamic Relief Organization Saudi Arabia (IIROSA) meluncurkan enam proyek wakaf produktif senilai 470 juta riyal dengan proyeksi keuntungan 45 juta riyal. Keuntungan dari proyek-proyek tersebut digunakan untuk kepentingan sosial umat.
Proyek Bayt Allah Waqf berupa 11 lantai rumah dan gedung komersial. Keuntungan dari proyek ini digunakan membangun 370 mesjid di 18 negara.
Belum lagi The Orphan Waqf, hotel 30 lantai yang keuntungannya digunakan untuk membiayai anak-anak yatim di 28 negara. The Educational Care Waqf, sebuah tower 22 lantai, yang keuntungannya digunakan untuk membiayai 30 institusi pendidikan di seluruh dunia.
Maka, Kushardanta berharap, para pegiat ZISWAF (Zakat Infak Wakaf) Asia Tenggara harus meningkatkan sinergitas pengelolaan sumber daya umat.
Rangkaian kerja sama ini, katanya, merupakan cerminan kesadaran untuk lebih dapat mengoptimalisasi pemanfaatan zakat infak sedekah dan wakaf dalam peran pengentasan kemiskinan di Asia Tenggara secara lintas negara, bahkan lintas benua hingga Afrika.
Karenanya, kata dia, IMZ bersinergi bersama lembaga filantropi lintas negara seperti Dompet Dhuafa, Sinergi Foundation, Institut Kajian Zakat (IKaZ) Malaysia, Lembaga Wakaf Produktif (WakafPro 99), Baitul Maal Muamalat (BMM), dan beberapa lainnya menggelar Seminar Internasional Filantropi Islam ke- 3, Selasa-Kamis (3-5/3) di Hotel Golden Flower, Bandung.




