Senin 16 Mar 2026 13:01 WIB

Adab dan Etika Mudik

Pemudik hendaknya selalu menjaga akhlak yang baik.

Arus Mudik (ilustrasi)
Foto: republika
Arus Mudik (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hari-hari mendekati Idul Fitri, mayoritas masyarakat yang bekerja di perkotaan memilih pulang ke kampung halaman. Fenomena yang kerap disebut sebagai mudik ini sudah menjadi tradisi dalam pekan akhir Ramadhan.

Sejatinya, mudik bertujuan kebaikan, yakni menyambung tali silaturahim. Bila pada hari-hari biasa, antar-anggota keluarga besar sering terpisahkan oleh jarak. Dengan berkumpul di kampung halaman, mereka dapat kembali merekatkan hubungan dan keakraban.

Baca Juga

Di samping meluruskan niat kebaikan, ada berbagai adab mudik lainnya yang perlu diperhatikan. Berikut ini penjelasannya, seperti disarikan dari rubrik "Konsultasi Syariah Republika" yang diasuh Ustaz Dr Oni Sahroni.

Pertama-tama, sebelum berangkat mudik, seseorang memastikan terlebih dahulu aset dan barang yang ditinggal di rumah. Itu agar keamanannya terjaga. Sebab, salah satu bagian dari kewajiban Muslimin ialah menjaga harta miliknya (shiyanah al-milkiyah).

Saat barang hilang atau raib karena abai akan penjagaan tersebut, maka ia berdosa dan lalai.

sumber : Konsultasi syariah oleh Ustaz Dr Oni Sahroni/Pusat Data Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement