Rabu 11 Jun 2014 09:05 WIB

Thaharah Perspektif Fikih: Tarekat, Hakikat, dan Neurologi (3-habis)

Seorang Muslim harus berwudhu sebelum menunaikan ibadah shalat. Selain mensucikan dan membersihkan ketika hendak melakukan shalat, wudhu bagi umat Islam juga untuk menjaga kesehatan melalui kebersihan secara lahir yang dilakukan paling tidak lima kali seha
Foto: Republika/Yasin Habibi
Seorang Muslim harus berwudhu sebelum menunaikan ibadah shalat. Selain mensucikan dan membersihkan ketika hendak melakukan shalat, wudhu bagi umat Islam juga untuk menjaga kesehatan melalui kebersihan secara lahir yang dilakukan paling tidak lima kali seha

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

Jika kita mampu menyinergikan pengamalan thaharah dengan mengadopsi pendapat-pendapat ulama-ulama  fikih, ulama tarekat, ulama hakikat, dan dengan mengindahkan pendapat para neurolog, sudah tentu kita akan meraih keagungan di dalam beribadah.

Semakin bersih dan suci badan, pikiran, jiwa, dan hakikat diri kita, semakin besar pula kemungkinan untuk bisa meraih maqam lebih tinggi di mata Allah SWT.

Dalam pandangan ahli ma’rifah, wudhu yang sempurna bukan hanya akan membuat kita bersih dari hadas besar dan kecil.

Tetapi lebih penting dari itu, juga mampu membersihkan kita dari noda-noda kemusyrikan, sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam Alquran surah at-Taubah ayat 28. “Hai orang-orang  yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis maka janganlah mereka mendekati Masjidil  Haram sesudah tahun ini.”

Sebaliknya, orang-orang yang melakukan thaharah secara sembrono atau sama sekali mengabaikannya karena mungkin ikut-ikutan dengan orang lain yang tidak mau repot maka Allah SWT mengancamnya.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS al-Isra’ [17]:36).

Dalam ayat lain ditegaskan, “Pernahkah kalian melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesaat berdasarkan ilmu-Nya (bahwa ia tidak layak lagi memperoleh petunjuk), serta Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan di atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mau ingat?” (QS al-Jatsiyah [45]:23).

Dari ayat-ayat tersebut dipahami bahwa sistem thaharah yang sempurna dilakukan seseorang bukan hanya membersihkan fisiknya, melainkan juga nonfisik.

Dengan kata lain, kekuatan thaharah dapat membersihkan anggota badan, menjernihkan dan menyehatkan pikiran, serta menyucikan hati. Ini semua bisa terjadi jika kita terus dan terus belajar.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement