Selasa 28 Feb 2012 16:27 WIB

Hujjatul Islam: Syekh Yusuf Al-Qardhawi, Ulama Progresif yang Kontroversial (2)

Rep: Syahruddin El Fikri/ Red: Chairul Akhmad
Syekh Yusuf Al-Qardhawi
Foto: Republika/Amin Madani
Syekh Yusuf Al-Qardhawi

REPUBLIKA.CO.ID, Sikap moderat Qardhawi terlihat dalam mendidik putra-putrinya. Dari tujuh orang anaknya (empat putri dan tiga putra), hanya satu orang yang mengambil pendidikan agama. Selebihnya ada yang mengambil fisika, kimia, elektro dan lainnya.

Ia membebaskan anak-anaknya menuntut ilmu apa saja yang sesuai dengan minat dan bakat serta kecenderungan masing-masing. Salah seorang putrinya memperoleh gelar doktor fisika di bidang nuklir dari Inggris.

Putri keduanya memperoleh gelar doktor dalam bidang kimia juga dari Inggris, sedangkan yang ketiga masih menempuh S3. Adapun yang keempat telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas Texas, Amerika.

Anak laki-laki yang pertama menempuh S3 dalam bidang teknik elektro di Amerika, yang kedua belajar di Universitas Darul Ulum, Mesir. Sedangkan yang bungsu telah menyelesaikan kuliahnya pada fakultas teknik jurusan listrik.

Dilihat dari beragam pendidikan anak-anaknya, masyarakat bisa membaca sikap dan pandangan Qardhawi terhadap pendidikan modern. Menurut Qardhawi, semua ilmu (bisa islami dan tidak islami), tergantung kepada orang yang memandang dan mempergunakannya. Dan ia menolak pembagian ilmu secara dikotomis. Pemisahan ilmu secara dikotomis itu, menurut Qardhawi, telah menghambat kemajuan umat Islam.

Karena sikapnya ini pula banyak pihak yang mengecam, bahkan menganggap Qardhawi menyimpang. Sebagian di antara para pemikir bahkan mencap dirinya sebagai orang yang mendukung pendidikan barat yang bisa merusak akhlak generasi muda. Namun demikian, ia menanggapi semua tuduhan yang ditujukan kepada dirinya dengan sikap lapang dada.

Salah seorang yang menuduhnya menyimpang adalah Abu Afifah. Dalam sebuah artikelnya; ''Siapakah Yusuf Al-Qardhawi", Abu Afifah menyebutkan Qardhawi sebagai seorang ahlul bid'ah.

''Sesungguhnya bencana yang tengah menimpa umat dewasa ini adalah menjamurnya kelompok-kelompok orang yang berani memanipulasi (memalsukan) “selendang ilmu” dengan mengubah bentuk syariat Islam dengan istilah “tajdidi” (pembaharuan), mempermudah sarana-sarana kerusakan dengan istilah “fiqih taysiir” (fiqih penyederahanaan masalah), membuka pintu-pintu kehinaan dengan kedok “ijtihad” (upaya keras untuk mengambil konklusi hukum Islam), melecehkan sederet sunah-sunah Nabi dengan kedok “fiqih awlawiyyat” (fiqih prioritas), dan berloyalitas (menjalin hubungan setia) dengan orang-orang kafir dengan alasan “memperindah" corak (penampilan) Islam," tulis Abu Afifah.

Selain Abu Afifah, masih banyak tokoh lain yang meminta agar umat Islam berhati-hati terhadap setiap gagasan Qardhawi. Di antaranya Syekh Shalih Alu Fauzan, yang mengkritik kitab yang ditulis Qardhawi dengan kitab Al-I’laam binaqdi Al-Kitab Al-Halal wa Al-Haram (Kritik terhadap kitab Halal dan Haram karya Yusuf Qardhawi) dan Syekh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy, pengarang kitab Ar-Raddu Ala Al-Qardhawi, serta Sulaiman bin Shalih Al-Khurasyi.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi