REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ilmu bukan sekadar pengetahuan yang memenuhi pikiran, tetapi cahaya yang Allah SWT letakkan di dalam hati seorang hamba. Karena itu, ketika hati dipenuhi maksiat, cahaya ilmu dapat padam, sementara ketakwaan justru menjadi jalan datangnya kemudahan, rezeki, dan keberkahan dalam kehidupan.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Ad-Da' wa ad-Dawa menerangkan bahwa ilmu adalah sinar yang diletakkan Allah di dalam hati. Sebaliknya, maksiat memadamkan sinar itu.
Suatu ketika, Imam Syafi'i duduk di depan Imam Malik. Dia membacakan sesuatu yang membuat Imam Malik kagum. Imam Malik sangat mengagumi kecepatannya dalam menangkap pelajaran, juga kecerdasannya dan pemahamannya yang sempurna.
Imam Malik berkata kepada Imam Syafi'i, "Aku melihat Allah telah meletakkan sinar dalam hatimu. Jangan padamkan sinar itu dengan kegelapan maksiat."
Imam Syafi'i menjawab, "Aku mengeluhkan hapalanku yang jelek kepada Waki. Ia menasihatiku untuk meninggalkan maksiat. Waki berkata, 'Ketahuilah, ilmu itu anugerah dan anugerah Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat'."
Dalam Musnad dikatakan, "Seorang hamba tidak mendapatkan rezeki karena dosa yang ia kerjakan."
Sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa takwa kepada Allah dapat mendatangkan rezeki. Sebaliknya, meninggalkan takwa akan mendatangkan kefakiran dan kemiskinan.
Kemaksiatan menjadikan seseorang menjumpai banyak kesulitan. Ia tidak punya solusi, kecuali dengan jalan yang serba sulit. Orang yang bertakwa kepada Allah mendapatkan keringanan. Sedangkan orang yang tidak bertakwa mendapatkan kesukaran dari Allah dalam setiap urusannya.
Sangat mengherankan, jika seorang hamba ketika ia mendapatkan pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup, namun ia tidak mengetahui asal-muasalnya.